Prof Widjojo dan Hasil Kebut Semalam Repelita

Peluang Bisnis Online Tanpa Ribet - Serta Info terbaru seputar dunia bisnis indonesia terupdate dan terpercaya

Kamis, 08 Maret 2012

Prof Widjojo dan Hasil Kebut Semalam Repelita

VIVAnews - Begawan ekonomi Prof Dr Widjojo Nitisastro, dini hari tadi berpulang ke Rahmatullah di usia 84 tahun. Mendengar nama Widjojo, niscaya orang akan diingatkan kembali dengan program-program ekonomi dan pembangunan Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto.

Ya, Widjojo-lah sang arsitek ekonomi andalan Soeharto. Dialah otaknya program Repelita, Rencana Pembangunan Lima Tahun, yang merupakan arah kebijakan perekonomian dan pembangunan nasional saat itu.

Repelita diluncurkan pertama kali tahun 1969 dan berakhir 1974. Saat itu program ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan infrastruktur dengan penekanan pada bidang pertanian.

Intinya membuat stabilitas ekonomi. Soeharto mempercayakan pengemban tugas ini Badan Perancang Pembangunan Nasional (Bappenas) yang dibentuk dan diketuai Prof Dr Widjojo.

Ekonom Pande Radja Silalahi saat dihubungi VIVAnews, Jumat 9 Maret 2012 mengatakan, program utama Repelita saat itu adalah pemulihan ekonomi, mengatasi inflasi yang mencapai 650 persen dan utang luar negeri yang mencapai US$2,5 miliar. "Ini agenda yang sangat berat," kata Pande.

Diakui Pande, Repelita bisa memerangi kesemrawutan ekonomi saat itu. Kegigihan tim ekonomi masa itu membuahkan hasil. Selain bisa mencatat pertumbuhan ekonomi yang sangat spektakuler, pemerintah juga bisa menekan inflasi ke level single digit. "Terlepas pro dan kontra, keberhasilan Repelita pada masa Soeharto sungguh luar biasa," katanya.

Program Repelita terus berlanjut dengan Repelita II (1974–1979), yang bertujuan meningkatkan pembangunan di pulau-pulau selain Jawa, Bali dan Madura, di antaranya melalui transmigrasi.

Kemudian Repelita III (1979–1984) menekankan bidang industri padat karya untuk meningkatkan ekspor. Dilanjutkan Repelita IV (1984–1989) yang bertujuan menciptakan lapangan kerja baru dan industri. Kemudian Repelita V (1989–1994) yang menekankan bidang transportasi, komunikasi dan pendidikan.

Dengan pembangunan yang direncanakan ini, kata Pande, pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat memiliki rencana yang mengikat. Para pejabat, baik di eksekutif maupun legislatif, tak bisa jalan di luar rencana itu. Repelita itu kemudian dijabarkan setiap tahun dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (ABPN).

Menit-menit Terakhir

Mengenai Repelita, Prof Dr Ali Wardhana memiliki cerita sendiri. Mantan penasihat ekonomi yang pernah juga menjabat Menko Ekuin dan Menteri Keuangan era Soeharto mengatakan, pemikiran Prof Widjojo ini sangat mendalam. Dia selalu memikirkan suatu masalah dengan masak-masak sebelum dituangkan dalam tulisan, meskipun harus diselesaikan sampai menit-menit terakhir.

Dalam buku Kesan Para Sahabat tentang Widjojo Nitisastro yang diterbitkan Kompas 2007, Ali Wardana menceritakan, pola ini tak hanya terjadi saat Prof Widjojo masih mahasiswa. Saat menjabat Ketua Bappenas pun demikian.

Dia mengisahkan, suatu saat dalam sidang kabinet membahas isu tunggal, Repelita I.  Widjojo menjelaskan panjang lebar mengenai rencana pembangunan lima tahun pertama itu, namun tak ada bahannya. Semua menteri melihat ke kanan dan ke kiri.

Sesaat kemudian, bahan-bahan Repelita baru datang. "Semua menarik nafas panjang dan lega, rupanya buku baru selesai dibuat dan dilembur hingga pagi hari," ujar Ali.

Meski hasil kebut semalam, buku Repelita I kemudian menjadi acuan pembangunan nasional dalam lima tahun ke depan. Bahkan Repelita-repelita selanjutnya masih tetap mengacu pada buku itu. (umi)

Popular Posts