Widjojo dan Kontroversi Mafia Berkeley

Peluang Bisnis Online Tanpa Ribet - Serta Info terbaru seputar dunia bisnis indonesia terupdate dan terpercaya

Kamis, 08 Maret 2012

Widjojo dan Kontroversi Mafia Berkeley

VIVAnews - Arsitek ekonomi Orde Baru, Widjojo Nitisastro tutup usia hari ini, Jumat, 9 Maret 2012. Rencananya, jenazah Widjojo Nitisastro akan disemayamkan di Gedung Bappenas, dan akan dimakamkan dengan proses upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Semasa hidup, Widjojo memang dikenal sebagai salah satu ekonom Indonesia yang paling disegani. 'Gelar' arsitek ekonomi Orde Baru pun bukan diberikan tanpa alasan. Widjojo merupakan figur penting yang membangun kebijakan ekonomi di masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Kebijakan ini pun sekaligus diemban Widjojo sambil menjabat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dari tahun 1971 hingga 1973. Kemudian Widjojo menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri, sekaligus sebagai Ketua Bappenas.

Saat Indonesia mengalami krisis moneter, Soeharto pun memercayai Widjojo untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan krisis moneter yang melanda Indonesia. Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Penerangan Hartono dan Gubernur Bank Indonesia Soedrajat Jiwandono di Bina Graha, 9 Oktober 1997.

Sosok Widjojo juga diwarnai kontroversi sebutan Mafia Berkeley. Julukan ini diperolehnya, karena Widjojo memimpin tim ekonomi yang sebagian besar merupakan lulusan doktor dan master dari University of California at Berkeley, Amerika Serikat. Tim ini dianggap menganut ekonomi liberal ala AS.

Sebutan ini sendiri pertama kali ditulis oleh David Ransom, seorang aktivis Kiri Baru di Amerika Serikat, dalam majalah bernama Ramparts, edisi 4 tahun 1970. Di artikel itu Ransom menuduh Mafia Berkeley sebagai proyek AS, terutama CIA, untuk menggulingkan Soekarno dan melenyapkan pengaruh komunis di Indonesia.

Tapi tuduhan ini dibantah oleh Boediono, Wakil Presiden RI saat ini, sekaligus murid Widjojo Nitisastro. "Dikesankan bahwa pelajar Indonesia mendapat beasiswa dari lembaga AS, ini berarti mereka bagian dari rencana CIA untuk membuat Indonesia pro AS. Tuduhan seperti itu tidak adil," kata Boediono saat memberikan sambutan dalam peluncuran buku Widjojo Nitisastro di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, 14 Januari 2010.  

Menurut Boediono, Widjojo justru membawa Indonesia keluar dari jerat kebijakan ekonomi terpimpin. "Andai dia (David Ransom) menulisnya sekarang, menyaksikan perubahan di negeri sosialis, mungkin dia akan lebih memahami kebjakan ekonomi baru pak Widjojo dan timnya," ujarnya.

Tuduhan Widjojo Nitisastro sebagai boneka AS juga dinilai Boediono tidak masuk akal. Ini disebabkan kebijakan ekonomi Widjojo lahir dari pengalaman dan sejarah ekonomi yang terjadi di Indonesia.

"Dalam hal ini, pak Widjojo tidak berbeda jauh dari pandangan pendiri bangsa yg bercita-cita mempertemukan keadilan dengan kemakmuran, pemerataan, dan pertumbuhan. Cita-cita itu tidak lain dan tidak bukan karena pengalaman kita. Bukan gagasan yang dicangkok dari luar," tutur Boediono.

Widjojo Nitisastro yang meninggal di usia 84 tahun ini pun meninggalkan sejumlah binaan ahli ekonomi. Selain Boediono, Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati juga dianggap sebagai salah satu murid Widjojo Nitisastro. (eh)

 

Popular Posts