No Regrets, Kisah Sukses Tanri Abeng

Peluang Bisnis Online Tanpa Ribet - Serta Info terbaru seputar dunia bisnis indonesia terupdate dan terpercaya

Rabu, 07 Maret 2012

No Regrets, Kisah Sukses Tanri Abeng

Tanri Abeng (Antara/ Jefri Aries)

VIVAnews - Mantan menteri Pemberdayaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Tanri Abeng meluncurkan buku berjudul "No Regrets". Buku ini berisi biografi perjalanan hidupnya hingga saat peluncuran buku hari ini bertepatan dengan ulang tahunnya ke-70.

Rekam jejak sang profesional, teknokrat dan guru manajemen ini dipenuhi dengan kisah jatuh bangun Tanri Abeng hingga ia sukses menjadi seorang menteri pada periode Presiden Soeharto dan BJ Habibie. Buku Tanri Abeng, ditandai dengan tujuh fase hidupnya. Di angka 7x10 ini, dia mencapai kesimpulan bahwa pada suatu titik hidup tidak dapat setengah-setengah lagi.

Pada tujuh tahun pertama sampai ketiga, dia memberi judul 'struggling for life'. Ketika remaja itulah, Tanri memulai cikal bakal tantangan hidup yang mulai dihadapi oleh Tanri yang dikenal sebagai Manajer Satu Miliar. Tanri berangkat dari keluarga petani yang tak berkecukupan. Ia adalah anak pertama yang menikmati pendidikan dari desanya.

Di Pulau Selayar, Tanri menyelesaikan Sekolah Rakyat tanpa mengenal penerangan listrik. Di sekolah rakyat itulah perjuangan hidupnya dimulai dari menjajakan pisang dari hasil kebun orang tuanya.

Memasuki sekolah lanjutan, Tanri memproduksi bahan pelajaran stensilan yang dijual ke rekan-rekan sekelasnya. Setelah memasuki perguruan tinggi, ia berdagang kopi untuk pasar internasional. Ia sama sekali tak bermimpi menjadi manajer satu miliar dan model profesional.

"Cita-cita saya hanya menjadi guru," kata Tanri Abeng, dalam peluncuran bukunya, di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu malam, 7 Maret 2012.

Ke Amerika

Panggilan hidup menentukan lain. Setelah SMEA selesai, ia mendapat beasiswa selama satu tahun dari American Field Service. Selama setahun di negeri Paman Sam, Tanri bukan saja memperoleh pendidikan, tetapi yang lebih penting adalah pembentukan watak dan pengasahan bakat dalam menghadapi tantangan hidup. Pola pilkirnya yang efisien dan profesional menjadi gaya hidupnya.

Kemudian, tujuh tahun keempat, Professional career. Sebelum dia mencapai karir profesional, Tanri masih fokus pada studi sambil melakoni diri menjadi guru bahasa Inggris. Tetapi, baru memasuki tahun kelima di Universitas Hasanuddin yang dengan bantuan keluarga Gibson, ia pada 1967-1968 melanjutkan studi MBA di AS.

Karir profesional Tanri dimulai pada usia 26 tahun, segera setelah menyelesaikan pendidikan MBA di State University of New York (SUNY), Buffalo, NY, AS. Tanri adalah foreign student pertama yang dinobatkan sebagai distinguished alumni dari universitas ini pada 1997.

Program management trainee pada Union Carbide Corporation yang bermarkas di New York, yang direncanakan dua tahun diselesaikan hanya dalam delapan bulan. Sehingga Tanri sudah mendapatkan posisi di Indonesia sebagai Senior Finance Manager dalam usia 27 tahun.

Sejak di Union Carbide Corporation, Tanri mendirikan Institute Financial Executive Indonesia, serta menghadirkan pembicara tamu, semisal Henry Kissinger.

Memasuki usia 29 tahun, Tanri telah diangkat menjadi Direktur Keuangan dan anggota dewan direksi termuda di dunia dari perusahaan multinasional ini. Untuk meningkatkan wawasan, Tanri ditempatkan di Singapura dengan membawahi urusan pemasaran di 62 negara.

Di Singapura

Tujuh tahun kelima dan keenam, setengah bangga. Tiga tahun di Singapura, Tanri mendapat prestasi yang gemilang sehingga sudah diprediksikan menjadi orang nomor satu di Union Carbide Indonesia. "Ini pembajakan pertama terjadi," kata Tanri.

Pada usia 37 tahun, sebelum kembali ke Indonesia pada 1979, Tanri dibajak Heineken, perusahaan minuman, untuk menjadi orang nomor satu. Menurutnya, UCC sudah mapan, sementara Multi Bintang manajemennya kacau, padahal sudah beroperasi di Indonesia sejak 1932. Ia mengubah citra, nama, logo, bahkan menjadi perusahaan kedelapan yang masuk di Bursa Efek Jakarta pada 1982.

Pada usia 42 tahun, Tanri memimpin Perhimpunan Manajemen Indonesia (Permanin). Pada tahun itu pula ia telah bergabung dalam Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI).

Tujuh tahun ketujuh, Setengah Gila. Tanri yang berusia 47 tahun dibajak oleh kelompok usaha Bakrie. Multi Bintang saat itu telah mapan dengan sistem SDM yang handal. Akhirnya dia dibajak oleh Aburizal Bakrie. Ia tidak menyesal dibajak untuk kedua kalinya. Karena berita pembajakan inilah media menyebutnya sebagai Manajer Satu Miliar.

"Itu media yang bilang, saya kan gajinya lebih banyak. Saya masih menjadi Presiden Komisaris di Multibintang," ujarnya.

Selain itu, dia juga menjadi Presiden Komisaris BAT, komisaris di PT Sepatu Bata, dan adviser pada dua perusahaan multinasional. Jadi, jika dihitung memang boleh setengah bangga dan setengah gila.

Setengah Sadar

Tujuh tahun kedelapan, Setengah Sadar. Pada periode ini disebutnya tahun melapangkan jalan ke pengabdian. Ketika dia masih sedang diburu keprofesionalannya, saat itulah Indonesia menghadapi krisis ekonomi. Untuk ketiga kalinya dia dibajak oleh Presiden Soeharto dalam posisinya yang masih di pucuk pimpinan Bakrie Brothers.

Tanri diminta Presiden Soeharto untuk membenahi BUMN dari 17 kementerian menjadi satu kementerian. Di sana Tanri mencipatakan value creation yang bukan lagi berpola pada birokrasi tetapi korporasi. Dia hanya menjadi menteri dua bulan di era Soeharto sebelum kelengserannya.

Sebagai anggota kabinet sekaligus Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan di masa krisis, di bawah kepemimpinan Presiden BJ Habibie, Tanri bersama anggota kabinet harus bergulat dengan penurunan inflasi yang mencapai 70 persen, suku bunga 60 persen serta anjloknya rupiah ke level Rp16.500 per dolar AS.

Tanri bekerja siang malam di tengah tekanan IMF dan Bank Dunia yang menginginkan privatisasi massal terhadap BUMN yang belum terwujud. Paling tidak, ia telah meninggalkan blue print untuk pemberdayaan BUMN yang tersusun dalam road map berupa restrukturisasi, profitisasi, dap privatisasi yang disertai sistem berbasis best practice.

"Pak Habibie bilang, Tanri, ingatlah bahwa tidak ada orang yang abadi di dunia ini. Yang kekal dan abadi adalah pemikiran dan sistem yang ditinggalkannya," kata Tanri menirukan ucapan Presiden BJ Habibie.

Dia mengaku setengah bangga dapat menyelamatkan Garuda dari kebangkrutan dan melakukan merger empat bank menjadi Bank Mandiri hanya dalam waktu delapan bulan di bawah kepemimpinan Robby Djohan.

Tujuh tahun kesembilan, Setengah Guru. Ini adalah tahun untuk berbakti. Setengah guru adalah kesana kemari tugasnya mengajar meskipun secara informal mengajarkan manajemen kepimpinan kepada para eksekutif.

Tujuh tahun kesepuluh, Setengah Enterpreneur. Ini adalah saat untuk berbagi kearifan dan kebajikan. Dari setengah guru dan setengah enterpreneur, Tanri ingin merangkak menjadi guru dan enterpreneur 100 persen, menjadi pengentas kebodohan.

"Saya ditantang untuk menjadi enterpreneur di usia ini untuk mengembangkan Tanri Abeng University (TAU)," katanya.

Dalam peluncuran buku Tanri Abeng ini, terlihat beberapa tokoh penting. Tampak hadir adalah Presiden BJ Habibie, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh, Wiranto, Mustafa Abubakar, Irman Gusman, Anwar Nasution, Sofjan Djalil, Robby Johan, Usman Sapta, Budayawan Taufik ismail, dan para pengusaha. Menteri Keuangan Agus Martowardojo juga tampak hadir terlambat setelah acara usai.

Popular Posts