Syailendra Bawa SWF Asia Tanam Rp1,35 T di RI

Peluang Bisnis Online Tanpa Ribet - Serta Info terbaru seputar dunia bisnis indonesia terupdate dan terpercaya

Minggu, 04 Desember 2011

Syailendra Bawa SWF Asia Tanam Rp1,35 T di RI

VIVAnews – Di saat krisis ekonomi tengah melilit Eropa dan Amerika, sebuah institusi pengelola Sovereign Wealth Fund (SWF) dari negara Asia masuk ke Indonesia, menjadi investor Utama (anchor investor) pada penawaran perdana ABM Investama yang akan diperdagangkan di BEI mulai Selasa depan, 6 Desember 2011. SWF tersebut menjadi anggota konsorsium Syailendra Capital dan memborong 360 juta saham ABM senilai Rp1,35 triliun.

IPO ABM merupakan yang terbesar ketiga di tahun 2011, setelah IPO Garuda Indonesia dan Salim Ivomas Pratama. Menurut Presiden Direktur Syailendra Capital, Jos Parengkuan, selain SWF dari Asia itu, pihaknya sedang melakukan pembicaraan intensif dengan SWF dari negara lain yang telah menyatakan ketertarikannya untuk bergabung. Cuma, ketika ditanya SWF mana yang dimaksud, Jos menyatakan, “Maaf, hal itu untuk sementara ini belum dapat kami ungkapkan.”

ABM melepas 550,6 juta lembar saham (20%) dengan harga perdana Rp3.750/lembar. Total dana yang akan diperoleh mencapai Rp2,1 triliun. Dengan demikian, 360 juta saham yang dibeli konsorsium Syailendra itu setara hampir dua per tiga dari total penawaran perdana.

ABM Investama adalah perusahaan milik keluarga AHK Hamami yang bergerak di bidang jasa dan produksi pertambangan dengan lini usaha Utama, meliputi kontraktor pertambangan, power supply, dan tambang batu bara. Sekitar 67 persen dari dana IPO akan digunakan untuk capital expenditure, di antaranya untuk pengembangan tambang batubara di Aceh. Adapun 27% lainnya akan digunakan untuk pengurangan hutang bank, dan sisanya untuk kebutuhan modal kerja. 

Melalui anak perusahaannya, ABM memiliki tambang batubara di Aceh dan Kalimantan Selatan dengan total resources sebesar 561 juta ton dan mineable reserves yang telah mendapatkan sertifikasi JORC (Joint Ore Reserves Committee) sebesar 221 juta ton. Keluarga Hamami juga tercatat memiliki PT Trakindo Utama yang merupakan distributor tunggal semua produk alat berat dan genset Caterpillar sejak tahun 1970.

Berlangsung di tengah krisis ekonomi global, Jos Parengkuan justru melihat IPO ABM sebagai sebuah peluang emas. “Situasi pasar saham global yang sedang bergejolak ini justru memberi kami peluang emas untuk bisa membeli saham dengan kualitas sangat baik dalam jumlah besar, dengan valuasi yang rendah,” katanya. 

Menurut Jos, Syailendra tertarik menjadi investor karena melihat ada banyak kesamaan antara ABM dengan United Tractors. “Baik dari sisi model bisnis yang terintegrasi, rekam jejak yang solid, profesionalisme, maupun good corporate governance,” katanya. 

ABM ditawarkan pada PER sekitar 9x dengan ekspektasi pertumbuhan laba sekitar 40 persen per tahun selama empat tahun ke depan. Sementara itu, United Tractors pada saat ini diperdagangkan dengan PER hampir 15x. 

Jos—yang sebelumnya pernah menjabat Direktur Eksekutif Danareksa—juga menilai masuknya SWF dari Asia pada IPO ABM ini mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan investor asing terhadap perekonomian Indonesia, di tengah krisis yang sedang melilit banyak negara Barat. “Ini merupakan investasi pertama mereka di Indonesia. Kami melihat akan lebih banyak lagi dana SWF dan private equity yang masuk ke Indonesia karena krisis yang terjadi di Eropa dan Amerika.” 

Diterangkan Komisaris Utama ABM, Rachmat Mulyana Hamami, ABM adalah perusahaan pertama milik keluarga Hamami yang go public.  

Syailendra Capital mulai beroperasi pada awal tahun 2007 dan saat ini memiliki total dana kelolaan sebesar Rp4,3 triliun. Sekitar 90 persen dari dana kelolaan tersebut berasal dari investor institusi lokal, yang terdiri dari dana pensiun, perusahaan asuransi dan yayasan. Kelompok usaha Syailendra baru mendirikan PT Syailendra Investments yang akan merambah bisnis private equity dengan menjaring dana dari investor institusi asing. (kd)


 

 

Popular Posts