Suku Bunga Dipaksakan, Bank Kecil Kolaps

Peluang Bisnis Online Tanpa Ribet - Serta Info terbaru seputar dunia bisnis indonesia terupdate dan terpercaya

Rabu, 07 Desember 2011

Suku Bunga Dipaksakan, Bank Kecil Kolaps

VIVAnews - Pengamat Ekonomi dan Perbankan dari Perbanas, Raden Pardede menyatakan, jika penurunan suku bunga dipaksakan Bank Indonesia kepada seluruh bank, bank-bank kecil diperkirakan akan kolaps.

"Tidak bisa disamakan, masing-masing bank punya karakter tersendiri. Kalau dibuat kompetisi seperti itu, saya khawatir bank-bank kecil tidak akan mampu bertahan," kata Raden Pardede, ketika berbincang dengan VIVAnews.com, di Jakarta, Rabu, 12 Desember 2011.

Arah suku bunga itu, kata Raden, mau tidak mau harus ada karena BI sudah mengatakan bahwa inflasi sudah turun, suku bunga juga sudah diturunkan. Namun, Raden menilai, tidak semua bank mau menurunkannya.

Menurutnya, ada bank-bank yang mungkin tidak akan mampu menurunkan suku bunga karena kalau mereka menurunkan suku bunga, mereka akan cukup sulit bersaing dengan bank-bank besar.

"Kalau mereka mengurangi landing rate-nya, suku bunga pinjamannya, margin mereka menjadi tipis. Jadi, kalau BI memaksakan seluruh bank untuk menurunkan suku bunganya, saya khawatir bank-bank kecil bisa menjadi problem," ungkapnya.

Tentu saja, lanjut Raden, usaha untuk menurunkan suku bunga itu ada, tetapi untuk bank-bank kecil seperti itu tidak bisa dibandingkan dengan bank besar seperti Bank Mandiri dan Bank Central Asia. "Tidak fair," kata dia.

Sementara itu, lanjut Raden, bagi bank-bank kecil, jika keuntungannya terlalu kecil, tidak akan mengambil pilihan untuk menurunkan suku bunganya. Ini terjadi akibat bank-bank kecil itu biayanya dinilai cukup mahal.

"Harus dilihat dari biaya operasional, biaya income rasio-nya, kan nggak murah, jadi di samping cost of fund, juga cost dari brand, APM, cabang-cabang di seluruh Indonesia, tentu mahal pengembangannya," kata dia.

"Tapi selalu akan ada trade off, di satu sisi kita ingin mencapai masyarakat yang lebih luas, kalau mau mencapai itu kan masih belum bankable, sehingga harus menambah cabang, kan biaya lagi, biayanya dari interest rate," imbuhnya.

Untuk itu, lanjut Raden, BI dan pemerintah sebagai regulator harus dapat menjaga keseimbangannya. Tidak hanya semata-mata suku bunga rendah saja, tapi pada saat yang sama tidak ingin biaya pengembangan juga mahal karena Indonesia negara kepulauan.

"Banyak yang belum dapat akses ke bank, biaya akses itu cukup mahal," kata dia.

Raden khawatir, jika bank-bank itu akan kolaps sehingga BI harus berhati-hati dengan kebijakan ini. "Dibuat bank khusus, regulasinya tersendiri, jadi nggak disamakan, cuma ujung-ujungnya penabungnya kan sama, dari mana mereka dapat penabungnya. BI tidak bisa terlalu banyak intervensi disana, bahaya nanti," tutur dia.

Popular Posts