Emiten Ramai Buyback, Harga Saham Kemurahan?

Peluang Bisnis Online Tanpa Ribet - Serta Info terbaru seputar dunia bisnis indonesia terupdate dan terpercaya

Senin, 28 November 2011

Emiten Ramai Buyback, Harga Saham Kemurahan?

VIVAnews - Munculnya emiten yang menggelar aksi korporasi berupa pembelian kembali saham (buyback) bisa menjadi indikasi harga saham sudah murah. Namun, aksi ini kemungkinan hanya dilakukan oleh emiten dengan kondisi kas berlebih.

"Saham jadi murah kan, akhirnya mereka beli. Itu juga karena mereka mempunyai uang. Kalau tidak punya, untuk apa berutang membeli saham sendiri," kata Direktur Utama PT Trimegah Securities Tbk, Omar S Anwar ketika berbincang dengan VIVAnews.com, di Jakarta, Senin 28 November 2011.

Sebagai informasi, sejumlah emiten besar mulai menggelar program buyback untuk mempertahankan harga sahamnya agar tidak jatuh lebih dalam. PT Bukit Asam Tbk diketahui berencana menggelar program buyback dengan anggaran sebesar Rp2 triliun.

Langkah serupa sudah lebih dahulu ditempuh oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Perusahaan milik pemerintah ini menganggarkan Rp5 triliun untuk melaksanakan program buyback.

Dari pihak swasta, perusahaan properti PT Ciputra Property Tbk berencana menggelar buyback dengan anggaran Rp204 miliar. Proses buyback akan dimulai pada November 2011.

Omar menilai, tujuan perusahaan menggelar buyback memang bermacam-macam. Namun, satu yang pasti adalah program buyback hanya dilakukan jika emiten tersebut menganggap memiliki dana cukup besar. "Daripada dananya menganggur, ya mending buyback saja," katanya.

Untuk kondisi saat ini, Omar mengakui krisis ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat telah menyebabkan harga saham sejumlah emiten mengalami penurunan. Hal ini juga menjadi perhatian dari para emiten pasar modal domestik.

Sementara itu, Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Eddy Sugito kepada VIVAnews.com mengatakan, otoritas bursa memberikan keleluasaan kepada emiten yang berencana menggelar buyback.

Eddy menilai perekonomian global yang sedang menghadapi tekanan secara tidak langsung ikut berpengaruh pada pasar modal Indonesia. Kondisi itu membuat harga saham terdepresiasi, sehingga emiten berupaya mengantisipasi penurunan saham lebih dalam melalui program buyback.

"Ini bisa dikatakan antisipasi krisis, seharusnya memang begitu. Karena Warren Buffett juga melakukannya. Dia melihat tekanan pasar lebih bersifat emosional, bukan fundamental," ujar Eddy. (art)

Kerja di rumah

Popular Posts