Telkom dan Adhi Karya Akuisisi BUMN 'Duafa'?

Peluang Bisnis Online Tanpa Ribet - Serta Info terbaru seputar dunia bisnis indonesia terupdate dan terpercaya

Jumat, 28 Oktober 2011

Telkom dan Adhi Karya Akuisisi BUMN 'Duafa'?

VIVAnews - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Adhi Karya Tbk, dan PT Wijaya Karya Tbk diperkirakan mengambil alih BUMN-BUMN 'Duafa', yang terbelit masalah keuangan dan membukukan kerugian terus-menerus.

Dalam sebuah dokumen yang diterima VIVAnews.com, Telkom akan mengambil alih PT Pradnya Paramita dan PT Balai Pustaka. Namun, sebelum pengambilalihan, kedua BUMN ini bakal dilebur terlebih dulu. "Targetnya dalam dua bulan, seluruh proses pengambilalihan sudah selesai," kata sumber itu di Jakarta, Jumat 28 Oktober 2011.

Ketika dikonfirmasi, Vice President Public and Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia, mengaku belum ada rencana perseroan untuk mengakuisisi kedua BUMN tersebut. "Tapi, kalau kerja sama bisnis, bisa saja dilakukan," ujar Eddy kepada VIVAnews.com.

Dia menambahkan, hingga saat ini, pembicaraan dengan Balai Pustaka hanya sebatas pengembangan bisnis. "Bukan pengertian akuisisi," ujarnya. Sedangkan dengan Pradnya, dia mengaku belum mengetahui.

Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya, Natal Argawan, mengatakan, pihaknya belum dapat berkomentar mengenai pengambilalihan Sarana Karya tersebut. Dia mengatakan, keputusan untuk melaksanakan pengambilalihan itu merupakan aksi korporasi yang memerlukan persetujuan pemegang saham.

"Keputusan itu kan baru keluar juga dan saya belum dapat kejelasan soal itu," ujar dia kepada VIVAnews.com.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Adhi Karya, Kurnadi Gularso, belum dapat dikonfirmasi terkait rencana aksi korporasi itu. Kurnadi belum mengangkat panggilan telepon VIVAnews.com.

Tak cuma Telkom, BUMN konstruksi Adhi Karya dan Wijaya Karya pun kebagian satu-satu. Adhi Karya akan mengambil Perum Produksi Film Negara (PFN), yang bidang industrinya sangat berlainan. "Ketujuh BUMN ini tidak menutup kemungkinan ganti bidang usaha," kata Menteri BUMN Dahlan Iskan beberapa waktu lalu. Sementara itu, Wijaya Karya akan mengambil alih PT Sarana Karya. 

Selanjutnya, PT Energy Management Indonesia diambil alih PT Surveyor Indonesia, PT Survey Udara Penas diambil alih oleh PT Angkasa Pura I, dan PT Industri Sandang diambil alih PT Pembangunan Perumahan. "Selanjutnya restrukturisasi PT Kertas Kraft Aceh (KKA), PT Iglas, dan PT PT Industri Kapal Indonesia (IKI) belum diputuskan," kata sumber itu.

Sebelumnya, di bawah kepemimpinan Dahlan Iskan, Kementerian BUMN tengah memusatkan perhatian untuk menyehatkan tujuh BUMN yang "sakit". Ketujuh BUMN itu adalah PT Energy Management Indonesia, PT Balai Pustaka, Perum Produksi Film Negara, PT Nindya Karya, PT Sarana Karya, PT Istaka Karya, PT Survei Udara Panas, dan PT Primissima yang bergerak di industri tekstil.

Berdasarkan data Kementerian BUMN pada 2009, PT EMI tercatat menanggung rugi Rp3,03 miliar, Balai Pustaka Rp66,67 miliar, Perum PFN Rp1,29 miliar, dan Primissima Rp5,54 miliar. Pada 2010, Nindya Karya merugi Rp6,42 miliar, dan Sarana Karya Rp3,49 miliar.

Memang, secara keseluruhan, jumlah BUMN yang merugi terus berkurang. Pada 2008, tercatat masih ada 30 BUMN dengan akumulasi kerugian Rp14,31 triliun. Pada 2009, jumlahnya turun menjadi 24 dengan akumulasi rugi Rp1,69 triliun. Sedangkan pada 2010, ada 18 BUMN dengan akumulasi kerugian Rp1,29 triliun. Adapun untuk 2011, datanya masih dikonsolidasikan. (art)

Popular Posts