Investor Ambil Untung Saham Astra

Peluang Bisnis Online Tanpa Ribet - Serta Info terbaru seputar dunia bisnis indonesia terupdate dan terpercaya

Rabu, 08 Februari 2012

Investor Ambil Untung Saham Astra

VIVAnews - Saham PT Astra International Tbk tertekan pada perdagangan hari ini di Bursa Efek Indonesia. Pada pukul 10.00 WIB, saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di bursa itu sudah melemah Rp1.300 (1,74 persen) ke posisi Rp73.550.

Bahkan, sekitar satu jam kemudian, sekitar pukul 11.07 WIB, saham Astra terkoreksi Rp2.000 atau melemah 2,67 persen ke posisi Rp72.850. Selanjutnya pada akhir perdagangan sesi pertama hari ini, saham Astra kembali turun Rp2.400 (3,2 persen) menjadi Rp72.450.

Analis memperkirakan penurunan harga saham produsen otomotif terbesar di Indonesia itu karena aksi ambil untung (profit taking). Harga saham Astra pada 2011 sudah naik cukup tinggi, bahkan melebihi pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG).

"Jadi, wajar jika investor merealisasikan keuntungan," kata analis PT CIMB Securities Indonesia, Mastono Ali, kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis 9 Februari 2012.

Selain itu, pada 2012, industri otomotif akan dihadapkan pada sejumlah tantangan, seperti wacana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga pajak kendaraan. Terkait persaingan di industri otomotif ini, Astra International juga mulai dibayangi pertumbuhan penjualan dari kompetitornya.

"Misalnya ada salah satu pesaing Astra yang pangsa pasarnya tahun lalu tumbuh dari tiga persen menjadi delapan persen," tuturnya.

Sementara itu, untuk kendaraan bermotor roda dua, Astra dengan produk andalannya bermerek Honda, juga makin bersaing ketat dengan Yamaha. "Kondisi ini yang juga ikut mempengaruhi pergerakan harga sahamnya," ujarnya.

Disinggung mengenai kemungkinan dimunculkannya kembali wacana pemecahan nilai nominal saham atau stock split, Mastono tidak melihat itu sebagai faktor yang mempengaruhi harga sahamnya. "Memang untuk investor ritel, harga saham Astra saat ini cukup mahal," ujarnya.

Hanya sebagian investor ritel yang masih bisa bertransaksi saham ini. Saat ini, saham Astra International banyak diperdagangkan oleh investor institusi.

Selain faktor profit taking, pada Rabu 8 Februari 2012, riset Credit Suisse juga telah menurunkan rekomendasi saham Astra International dari netral menjadi underperform. Credit Suisse menilai valuasi saham Astra sudah mencapai level "sempurna".

"Saham Astra diperdagangkan 62 persen premium terhadap MSCI Indonesia," tulis riset itu.

Bandingkan dengan valuasi sejenis pada saham otomotif di India yang hanya 61 persen premium. Pencapaian ini setara dengan rata-rata price to earning ratio (PER) di pasar saham India dalam jangka panjang.

Dengan estimasi PER 14 kali pada 2012 untuk saham di industri otomotif, pasar mengharapkan pertumbuhan volume 30-50 persen, dibanding 18-19 persen kapasitas pertumbuhan yang direncanakan oleh prinsipal.

Selain itu, Credit Suisse menyoroti risiko perlambatan pertumbuhan Astra. Estimasi pertumbuhan pendapatan Astra juga diperkirakan melambat dari 28 persen pada 2011 hingga 5 persen pada 2012. Tahun ini, pertumbuhan volume penjualan juga diproyeksikan melambat menjadi 5,4 persen dan 9,3 persen, masing-masing untuk kendaraan roda empat serta roda dua.

Padahal, rata-rata dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan volume penjualan Astra rata-rata berkisar 23 persen dan 14 persen.

Berdasarkan valuasi berdasarkan PER sebesar 21,3 kali pada 2012, saham Astra diperdagangkan 66 persen premium dari rata-rata PER saham sejenis di kawasan regional. Credit Suisse juga menurunkan target harga saham menjadi Rp65.890, dari sebelumnya Rp78.790.

Target tersebut setara estimasi PER sekitar 13,9 kali pada 2012, dengan proyeksi IHSG di level 4.400. Dalam riset itu, Credit Suisse juga memperkirakan penjualan Astra mencapai Rp179,3 triliun pada 2012 dengan laba bersih sekitar Rp19,1 triliun.

Namun, PT BNI Securities dalam ulasannya hari ini masih memberikan sudut pandang positif pada industri otomotif di Indonesia. "Kami konsisten dengan rekomendasi overweight," ujar analis BNI Securities Akhmad Nurcahyadi.

Bahkan, menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil pada Februari meningkat 5 persen.

Menurut Akhmad, pertumbuhan penjualan sektor otomotif di Indonesia cukup signifikan. Selama beberapa periode terakhir, pertumbuhan penjualan yang terjadi tidak terlepas dari dukungan ekspansi usaha yang berkelanjutan. Investasi juga dilakukan konsisten oleh para pelaku usaha tersebut.

Head of Public Relations Division Astra International, Yulian Warman, ketika dikonfirmasi mengatakan, penurunan harga saham Astra karena mekanisme pasar. "Di internal perusahaan sendiri nggak ada masalah," kata Yulian kepada VIVAnews.

Terkait kemungkinan menggulirkan wacana stock split, menurut dia, hingga saat ini manajemen Astra belum membicarakannya. Demikian pula mengenai penurunan rekomendasi dari Credit Suisse. "Kalau soal valuasi, analis yang lebih tahu," tuturnya.

Popular Posts