Menpera Kejar Target 1.000 Menara Rusun

Peluang Bisnis Online Tanpa Ribet - Serta Info terbaru seputar dunia bisnis indonesia terupdate dan terpercaya

Rabu, 26 Oktober 2011

Menpera Kejar Target 1.000 Menara Rusun

VIVAnews - Kementerian Perumahan Rakyat menargetkan pembangunan seribu menara rumah susun sederhana milik (rusunami) selesai akhir 2012. Untuk itu, pemerintah mendorong pengembang swasta ikut menyukseskan program tersebut.

Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz mengatakan, hingga saat ini, rusunami yang sudah selesai dibangun mencapai 700 rumah susun, yang tersebar tidak hanya di Jakarta, tapi seluruh Indonesia.

"Ke depan harus merangsang swasta, agar program seribu tower yang diprogramkan Presiden dapat tercapai. Untuk itu, kami akan temui pengembang-pengembang agar bisa tercapai," kata Djan Faridz, usai peresmian pemancangan tiang pancang Rusunami Delta Cakung Apartemen di Jakarta, Rabu 26 Oktober 2011.

Menpera mengatakan, sore ini dirinya akan bertemu dengan para pengembang swasta untuk berdiskusi agar target itu bisa dipercepat. "Saya siap berikan bantuan pada mereka, sebab seharusnya (proyek rusunami) tahun depan sudah selesai," ungkapnya.

"Saya kan menteri PAW (pergantian antar waktu), jadi saya harus lebih aktif untuk menghubungi pengembang, harus optimis," tambahnya.

Namun, Menpera tidak memungkiri adanya keluhan dari para pengembang swasta untuk membangun rumah susun, terutama terkait perizinan yang masih sulit.

"Perizinan itu mudah, tapi banyak, waktunya juga lama. Kalau target dua minggu izin mendirikan bangunan (IMB) selesai, pasti pengembang dapat tertolong," kata Djan Faridz.

Saat ini, Djan melanjutkan, pengembang memerlukan waktu untuk mengurus IMB sekitar 4-6 bulan. Jika dipercepat menjadi hanya dua hingga empat pekan, pengembang akan banyak yang berminat.

"Tergantung pemerintah daerah yang memberikan izin. Sekarang saja sudah 700 rusun, tinggal 300 lagi, saya yakin tahun ini selesai," tuturnya.

Pembangunan seribu menara yang sudah selesai dibangun, Djan melanjutkan, bukan hanya di Jakarta, tetapi juga Bandung, Medan, dan kota-kota besar lainnya.

Menurut dia, kendala utama pengembang bukan terletak pada faktor modal dan pembiayaan. Sebab, jika pengembang sudah berani membangun, mereka telah siap modal.

"Mereka siap, bank juga siap untuk salurkan kredit, tinggal ada beberapa hal agar pembeli juga mendapat fasilitas kredit," kata dia.

Sasaran yang dituju, Djan menambahkan, adalah masyarakat pekerja menengah ke bawah dengan penghasilan minimal Rp3 juta per bulan agar bisa mencicil setiap bulannya yaitu Rp1 juta.

"Dibangun di dekat tempat kerja misalnya, mereka kan biasa tinggal di pinggiran. Pastinya, ke tempat kerja itu perlu biaya transport sehari Rp20 ribu. Dengan dikurangi biaya transport, mereka nggak terlalu berat untuk mencicil," ungkapnya.

Menpera menawarkan alternatif, jika pengembang kesulitan memberikan fasilitas yang memadai, mereka bisa memberikan harga yang terjangkau. Alternatifnya yaitu memberikan fasilitas tambahan, sehingga harga akan naik.

"Harga ditambah sedikit, tetapi kita harus tambah subsidi bunga untuk uang muka, sehingga pembeli nggak keluar uang muka," kata Djan Faridz. (art)

Popular Posts