Freeport Sepakat Naikkan Gaji 40%

VIVAnews - Freeport McMoRan Copper & Gold Inc dan serikat pekerja Indonesia berharap bisa menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri pemogokan tiga bulan yang melumpuhkan produksi di tambang tembaga terbesar kedua di dunia, di Timika, Papua.
Menurut sumber Reuters, Selasa 13 Desember 2011, kedua belah pihak telah sepakat menaikkan gaji 40 persen selama dua tahun untuk mengakhiri sengketa terpanjang di industri Indonesia. "Penandatanganan perjanjian akan dilakukan di Jakarta," kata kedua sumber itu.
Meski demikian, hingga saat ini belum jelas kapan perusahaan tambang asal Amerika Serikat ini bisa melanjutkan produksi dan mengakhiri force majeure, yang dideklarasikan pada Oktober lalu.
"Kami akan menandatangani kesepakatan siang hari ini, dan dari manajemen Freeport akan hadir Armando Mahler (CEO Freeport Indonesia)," kata salah satu sumber sebagaimana ditulis Reuters.
Serikat pekerja awalnya meminta kenaikan gaji menjadi US$200 per jam, dari sebelumnya sekitar US$2 - 3 per jam. Permintaan itu itu terus menurun, dan dalam beberapa pekan terakhir menjadi sekitar US$7,50 per jam. Namun, tingkat ini masih dianggap "berlebihan" oleh CEO Freeport Richard Adkerson, yang turut membantu kesepakatan.
Menurut sumber itu, kesepakatan pemogokan antara lain terjadi karena adanya kekhawatiran para pekerja Freeport tidak mendapat bayaran menjelang Natal ini. Padahal, sebagian besar penambang beragama Kristen.
Harga tembaga telah jatuh sekitar 12 persen sejak pemogokan dimulai pada 15 September, sebagian besar karena ketidakpastian seputar krisis utang Eropa, meskipun kekhawatiran pasokan membantu membatasi penurunan harga.
Patokan harga tembaga di London Metal Exchange diperdagangkan pada US$7.612 per ton pada siang ini, naik dibandingkan dengan penutupan Senin sebesar US$7.606 per ton.