Imbas Krisis, Dana Stabilisasi Utang Siaga

VIVAnews - Pemerintah menyatakan telah menyiapkan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menjalankan program Bond Stabilization Fund (BSF) atau pendanaan terkait stabilisasi pasar sekunder surat utang, jika sewaktu-waktu terjadi krisis di Tanah Air.
Namun, aksi perusahaan pemerintah tersebut bersifat sukarela. Tugas pemerintah hanya mengarahkan kapan saat yang tepat hal tersebut dilakukan.
Di antara sejumlah perusahaan pemerintah yang akan ikut andil bagian dalam BSF adalah PT Mandiri Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Securities, dan PT BNI Securities.
“Itu murni aksi korporasi mereka sendiri. Itu voluntary dan pure keputusan mereka. Tapi, koordinasi yang kami lakukan itu tujuannya adalah bahwa timing untuk melakukan itu yang perlu diperhatikan,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Rahmat Waluyanto, saat jumpa pers di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa 9 Agustus 2011.
Perusahaan BUMN tersebut, dia melanjutkan, nantinya akan membeli Surat Utang Negara (SUN), apabila terjadi pelepasan kepemilikan dari para investor yang dianggap bisa menyebabkan krisis. Namun, waktu pelaksanaan pembelian SUN itu akan diputuskan melalui crisis management protocol yang telah dimiliki oleh para stakeholder moneter.
”Jadi, itu isinya indikator-indikator. Misalnya, kalau harga surat berharga sudah turun sekian basis poin, yield-nya turun berapa basis poin, itu kita harus melakukan apa. Jadi, pada harga berapa kira-kira kita bisa turun,” paparnya.
Selain dengan pembelian oleh BUMN, tambahnya, BSF dapat dilakukan dengan menggunakan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL), dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan lainnya. (art)