Harga Jadi Rp9.250, Konsumsi Pertamax Turun

VIVAnews - PT Pertamina menaikkan harga Pertamax sebesar Rp200 dari Rp9.050 menjadi Rp9.250 per liter. Namun, pesaing Pertamina, PT Shell Indonesia memutuskan untuk tidak menaikkan harga Shell jenis Super R92 yang dijual Rp9.050 per liter.
Praktis, dengan tidak adanya kenaikan itu, terdapat selisih harga Rp200 antara bahan bakar minyak (BBM) produksi Shell dan Pertamax.
Lalu, bagaimana komentar dari konsumen terkait kenaikan itu? Berdasarkan pantauan VIVAnews.com di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) 34-12412 di depan pintu masuk tol JORR Fatmawati 2, beberapa pemilik kendaraan memilih beralih dari Pertamax ke Premium.
Menurut penanggung jawab SPBU Awalludin, intensitas pembelian Pertamax mulai berkurang meski belum terlalu signifikan. Namun, pembelian Premium justru lebih meningkat.
"Berkurang signifikan, belum. Karena kenaikannya hanya Rp200 per liter. Kecuali seperti beberapa waktu lalu yang naik dari Rp8.000 menjadi Rp8.600. Saat itu, lumayan besar berkurangnya konsumen Pertamax," ujar Awalludin kepada VIVAnews.com di Jakarta, Senin, 16 Mei 2011.
Dia menjelaskan, kenaikan itu juga dipengaruhi oleh pesaing Pertamina. Jika kompetitor lain ikut menaikkan harga, kondisi itu tidak terlalu berpengaruh. Meski demikian, ia heran karena harga Pertamax terus naik. "Saya pikir, kondisi saat ini yang stabil, harga Pertamax bakal turun, tetapi ini malah naik," ujarnya.
Sementara itu, salah satu konsumen BBM Pertamina, Faisal, mengaku beralih dari Pertamax ke Premium karena tidak tahan dengan kenaikan harga. Faisal yang mengendarai mobil Daihatsu Terios terpaksa beralih karena kenaikan harga Pertamax terjadi terus-menerus.
Ia juga tidak takut mesinnya rusak dengan menggunakan Premium. "Yang penting murah" katanya.
Wahid, 30, seorang pekerja swasta yang mengendarai mobil Toyota Kijang Innova mengatakan, dia membeli Premium karena harga Pertamax makin mahal. "Saya pakai Premium karena murah. Kantong saya bisa kempes kalau pakai Pertamax terus. Satu liter Pertamax bisa dapat dua liter Premium kan," katanya.
Namun, kenaikan harga Pertamax itu tidak lantas membuat konsumen Pertamina beralih ke BBM milik Shell. Kebanyakan, pengguna Shell merupakan konsumen setia dan beralih karena percaya dengan produk Shell. Alasannya, perusahaan luar negeri akan lebih sehat berkompetisi dengan pesaingnya.
Menurut penjaga SPBU Shell di TB Simatupang, Jakarta, Ani, kenaikan harga Pertamax tidak langsung membuat Shell kebanjiran pelanggan. "Tidak tentu, karena biasanya ramai di jam berangkat kantor dan pulang kerja," katanya.
Konsumen Shell, Latino, memilih Shell karena yakin dengan oktan di dalamnya lebih bagus. Wiraswasta yang mengendarai Volvo S60 itu mengatakan lebih nyaman memilih Shell dibanding produk lain. "Pertama kali Shell muncul, saya langsung beralih. Sebelumnya saya pakai Pertamax," ujarnya. (art)