Harvard: Ekonomi Indonesia Rawan Overheating

VIVAnews - Indonesia merupakan negara yang rawan mengalami overheating, atau efek kepanasan perekonomian karena kelebihan uang beredar di masyarakat, akibat inflasi yang tinggi. Selain Indonesia, negara lain yang rawan adalah India, China, dan Singapura.
Hal tersebut disampaikan oleh Professor Harvard University, Jeffrey Frankel, dalam acara seminar International Monetary Fund dan Bank Indonesia di Bali, Jumat, 11 Marte 2011.
Frankel beralasan keempat negara Asia tersebut mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Namun dibalik pertumbuhan tersebut, inflasi keempat negara itu juga terlalu tinggi.
Inflasi tinggi, lanjut Frankel, memang banyak terjadi di negara berkembang. Bahkan inflasi tinggi dialami oleh semua negara dalam kelompok negera dengan skala ekonomi besar yaitu Brazil, China, India dan Rusia. Secara berturut-turut inflasi paling tinggi 10 negara di Asia dialami oleh India, Rusia, Turki, Indonesia, Brazil, China, Meksiko, Singapura, dan Korea.
Di sisi yang lain, negara emerging market saat ini mempunyai fundamental yang baik dibanding negara maju seperti negara-negara di Eropa. Negara dengan pertumbuhan ekonomi terbaik yaitu China, India, Maroko, Mesir, Indonesia, Yordania, Sri Langka, Argentina, Polandia dan Australia.
Sedangkan negara paling buruk pertumbuhan ekonominya yaitu Lithunia yang memiliki tingkat pertumbuhan domestik bruto (GDP) mencapai minus hampir 20 persen, dan Latvia sekitar minus 18 persen.
Direktur Asia and Pacific Department International Monetery Fund, Anoop Singh, juga setuju terhadap prediksi negara-negara yang rawan akan overheating.
Kondisi itu juga terjadi di beberapa negara emerging market yang mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi seperti India, Indonesia, China, dan Singapura "Itu bukan sesuatu yang baru, negara itu memang rawan terhadap overheating," katanya
Namun, analisa Frankel tersebut dibantah oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Hartadi Sarwono. Menurutnya, Indonesia Indonesia tidak rawan terkena overheating.
Hartadi beralasan, BI selama ini terus menjaga tingkat inflasi inti [core inflation] di bawah 5 persen. Dari sisi pasokan, pemerintah juga terus menjaga, seperti penyediaan bahan pangan.
Selain itu, indikator yang lain juga menunjukan harga aset seperti saham, price to earning ratio masih belum terlalu tinggi. "Itu terus kami monitor, harga properti, otomotif, meski memgalami kenaikan tapi belum masuk [kategori] buble," kata Hartadi.