Peluang Bisnis Online Tanpa Ribet - Serta Info terbaru seputar dunia bisnis indonesia terupdate dan terpercaya

Selasa, 27 September 2011

Konsumsi Pertamax Cs Turun 12,77%

VIVAnews - Terus merangkaknya harga Pertamax dan Pertamax Plus membuat konsumsi Pertamax cs di bulan Februari 2011 turun rata-rata 12 persen dibandingkan konsumsi Januari 2011.

Berdasarkan data BPH Migas yang diterima VIVAnews.com di Jakarta, hari ini, konsumsi Pertamax di Februari 2011 mencapai 53.054 kiloliter (KL), turun jika dibandingkan konsumsi Pertamax Januari 2011 yang mencapai 62.727 KL.

Sedangkan untuk Pertamax plus, terjadi peningkatan tipis pada Februari yang mencapai 9.781 KL, sedangkan konsumsi Pertamax Plus pada Januari mencapai 9.307 KL.

Jika ditotal, konsumsi Pertamax dan Pertamax plus pada Februari 2011 mencapai 62.838 KL, terjadi penurunan sekitar 12,77 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 72,034 KL.

Seperti diketahui, konsumsi Premium Februari 2011 melebihi kuota yang telah ditetapkan yaitu 1,7 Juta KL. Konsumsi Premium pada Februari 2011 mencapai 1,82 juta KL, sedangkan konsumsi solar pada Februari 2011 mencapai 1,02 juta KL.

Namun, jumlah tersebut turun jika dibandingkan konsumsi Premium pada Januari 2011 yaitu dari 1,987 juta KL di Januari menjadi 1,822 juta KL di Februari 2011.

BPS: Baru Kali Ini Cabai Masuk Sidang Kabinet

VIVAnews - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan masyarakat Indonesia hanya mempermasalahkan harga cabai ketika mengalami kenaikan. Namun ketika cabai berada di harga terbawah, tidak ada yang mempermasalahkan.

"Cabai menjadi berita ketika Rp100 ribu. Namun ketika harga Rp13 ribu, semua diam saja," kata Rusman seusai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, 6 Januari 2011. "Padahal ketika harga Rp13 ribu, petani sedang merana."

Rusman mengingatkan cabai sebenarnya bukan termasuk bahan pokok. Karena itu ketika cabai ternyata ikut mempengaruhi inflasi, Sidang Kabinet pun ikut membahasnya. "Jadi baru kali ini cabai masuk sidang kabinet," ujar Rusman.

Karena itu, BPS akan mengambil inisiatif untuk melihat cabai dari sisi ekonominya. "Struktur biayanya, berapa biaya yang harus dikeluarkan, durasinya dan berapa nilai jual," ucap Rusman.

Dengan demikian, dapat dilihat berapa harga yang wajar. "Bukan Rp13 ribu, tentu juga bukan Rp100 ribu," tutur Rusman.

Lantas berapa harga cabai yang tergolong wajar? "Sekitar Rp20 ribu sampai Rp30 ribu. Itu petani nyaman, ada gairah menanam dan konsumen mampu," jawab Rusman. (hs)

Saham Pelayaran Sudah Layak Dikoleksi?

VIVAnews - Pelaku pasar diperkirakan mulai mengakumulasi saham-saham di sektor pelayaran pada perdagangan hari ini, Rabu 5 Januari 2011. Hal tersebut, dipicu akan diberlakukan aturan penggunaan bendera Indonesia (cabotage) bagi kapal angkutan laut.

"Aturan cabotage, bakal dimanfaatkan investor untuk memburu saham-saham berbisnis pelayaran seperti BLTA (PT Berlian Laju Tanker Tbk) dan WINS (PT Wintermar Offshore Marine Tbk)," tutur Robin, analis sebuah perusahaan sekuritas di Jakarta kepada VIVAnews.com.

Selain sektor tersebut, kata Robin, sektor infrastruktur turut menjadi incaran pemodal, seiring langkah pemerintah yang akan melakukan tender beberapa ruas jalan tol. "Jadi, saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dan PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) boleh diakumulasi," tuturnya.

Sedangkan analis PT Anugerah Securindo Viviet S Putri mengakui, pagi ini pelaku pasar diperkirakan mulai melakukan akumulasi terhadap saham perbankan. "Saham perbankan yang semula mengalami tekanan jual, terlihat mulai diakumulasi," kata dia.

Viviet merekomendasikan, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan saham PT Bank Pembangunan Daerah Jabar Banten Tbk (BJBR).

Tahun Baru, Pertamina Jamin Pasokan BBM

VIVAnews - PT Pertamina (Persero) menyatakan kesiapannya untuk menghadapi lonjakan permintaan bahan bakar minyak (BBM) pada malam tahun baru. Ketahanan stok Premium nasional saat ini cukup untuk 22 hari, Solar 18 hari, dan minyak tanah 22 hari.

"Pada prinsipnya, menghadapi tahun baru, stok BBM Pertamina mencukupi," kata Vice President Pemasaran BBM Ritel Pertamina, Basuki Trikora Putra, di Jakarta, Selasa 28 Desember 2010.

Basuki mengklaim hingga saat ini tidak ada kekosongan BBM di seluruh wilayah Indonesia. Untuk mengantisipasi kekurangan BBM di daerah, Pertamina bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membentuk satuan tugas (satgas) posko untuk memantau kebutuhan BBM di seluruh Indonesia.

Menurut Basuki, satgas itu nantinya akan melakukan tindakan secepatnya jika
terjadi kelangkaan BBM di suatu daerah, sehingga tidak terjadi kekosongan. Satgas ini akan bekerja sejak H-5 hingga H+5 Tahun Baru.

"Ini pekerjaan rutin setiap tahun. Yang penting, stok Premium nasional mencapai 22 hari, tidak perlu dikhawatirkan, jumlahnya cukup," kata pria yang akrab disapa Tiko ini. (hs)

Otomotif Jepang Terganggu, Siapa Ambil Untung

Produksi mobil Toyota (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

VIVAnews - Beberapa merek industri otomotif asal Jepang mulai mengkhawatirkan  suplai komponen yang berasal dari Jepang. Karena beberapa pabrik yang memproduksi komponen mangalami dampak akibat tsunami. Akankah kondisi ini dimanfaatkan oleh produsen mobil lain selain Jepang?

Presiden Direktur, PT Hyundai Indonesia Motor juga produsen otomotif asal Korea, Jongkie D. Sugiarto mengatakan, bila melihat kondisi yang terjadi tentu peluang mengambil pasar konsumen mobil asal Jepang terbuka luas. Masalahnya, mobil Jepang telah memiliki pasar tersendiri bagi konsumen dalam negeri.

"Belum tentu dapat mereplace merek Jepang karena jenis kendaraannya berbeda," kata Jongkie di Hotel Nikko, Kamis 24 Maret 2011.

Jika orang ingin membeli mobil tentu mereka sudah merencanakannya sesuai dengan keinginan, tidak bisa digantikan begitu saja.

Momentum ini sebenarnya dapat menjadi peluang bagi produsen mobil selain mobil Jepang. Terlebih lagi, pasokan komponen dan lain sebagainya aman sehingga produksi tidak terganggu. Untuk Hyundai sendiri tidak ada yang menggunakan komponen Jepang sehingga produksi tetap aman.

"Jangan bersuka ria di atas kesedihan orang. Kalau kami dapat menjual produk kami itu oke, kalau nggak bisa ya sudah," tegas Jongkie.

Mobil Jepang memang telah memiliki pasar dan segmennya berbeda dengan merek non Jepang. Sehingga merek non Jepang belum tentu dapat menggantikan kebutuhan yang diinginkan konsumen. Jika orang ingin membeli mobil tentu mereka sudah merencanakannya sesuai dengan keinginan, tidak bisa digantikan begitu saja.

"Orang mau Avanza masak dikasih Mercedes," ujar dia dengan nada bercanda. (umi)

Tsunami landa Jepang, Harga Emas Melambung

VIVAnews - Harga emas naik tinggi beberapa hari setelah gempa dan tsunami memporak-porandakan Jepang. Sejak itu, investor kembali memburu logam berharga itu untuk mengamankan investasinya.

Harga emas pengiriman April di di divisi Comex New York Mercantile Exchange Selasa ini langsung naik US$3,10 menjadi US$1.424,90 per ons.  Sementara itu, harga emas di pasar spot meningkat lebih dari US$6. Sedangkan harga Silver naik 9 sen menjadi US$35,84 per ounce.

Bila di AS terjadi aksi beli, di Jepang justru sebaliknya. Laman harian bisnis, The Street, justru mencatat terjadinya aksi jual emas di negeri Sakura itu. "Mereka ingin mendapatkan uang tunai untuk memulihkan bisnis mereka," tulis laporan itu. Karena itu, pada tengah perdagangan, harga emas sempat tertekan ke level US$1.418,20 per ons.

Phil Streible, analis senior di Lind-Waldock, mengatakan bahwa investor Jepang cenderung membeli aset agar mereka cepat mendapat keuntungan. Bila tidak, mereka lebih senang melakukan transaksi valuta asing yang lebih cepat menghasilkan. "Kalau emas lama," katanya.

Kerja di rumah

Popular Posts