Peluang Bisnis Online Tanpa Ribet - Serta Info terbaru seputar dunia bisnis indonesia terupdate dan terpercaya

Minggu, 28 Agustus 2011

Pemerintah Edarkan Surat Larangan ke Arab

VIVAnews - Pemerintah memutuskan melakukan moratorium pengiriman tenaga kerja ke Arab Saudi. Berlaku efektif tanggal 1 Agustus 2011. Keputusan itu menyusul eksekusi mati terhadap Ruyati yang dipancung tanpa memberitahu pemerintah Indonesia dan keluarganya. "Ini melanggar norma internasional," kata Presiden SBY ketika mengumumkan moratorium itu.

Hari ini, Sabtu 25 Juni 2011, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengaku telah mengedarkan surat resmi  yang isinya  melarang perusahaan penyalur Tenaga Kerja Indonesia ke Arab Saudi beroperasi. Surat edaran itu adalah tindak lanjut dari moratorium itu.

"Kami sudah membuat edaran, tidak boleh satu pun PJTKI (Perusahaan Jasa TKI), yang beroperasi ke Arab Saudi mengirim tenaga kerja mulai Agustus 2011. Sejak ditetapkannya dua hari yang lalu, tidak boleh lagi merekrut tenaga kerja untuk berangkat ke Saudi Arabia," ujar Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar saat ditemui di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 25 Juni 2011.

Selain itu, menurut Muhaimin, untuk memastikan apakah perusahaan-perusahaan PJTKI menaati ketentuan itu, maka pemerintah akan melakukan pemantauan di bandara. "Akan kami tanam tiga perangkat, yakni BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia), kepolisian sama imigrasi untuk mengawasi secara terus menerus keberangkatan agar tidak ada TKI yang berangkat ke Arab Saudi sejak Agustus tanggal satu," kata dia.

BI: Penguatan Rupiah Tak Kurangi Daya Saing

VIVAnews - Bank Indonesia mengimbau pelaku pasar dan masyarakat untuk tidak khawatir terhadap penguatan nilai tukar rupiah yang menembus Rp8.500 per dolar AS. Sebab, penguatan kurs tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga di beberapa negara lain.

Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia, Hartadi Agus Sarwono, pergerakan nilai tukar rupiah hingga saat ini masih dalam kisaran perkiraan BI.

"Ini bermanfaat untuk menurunkan imported inflation tanpa mengganggu sumber pertumbuhan ekonomi, khususnya ekspor," kata Hartadi di Jakarta, Jumat, 10 Juni 2011.

Dia menambahkan, fenomena menguatnya nilai tukar rupiah turut disumbang oleh faktor melemahnya nilai tukar dolar AS terhadap seluruh mata uang di dunia. "Sehingga kita tidak perlu khawatir yang berlebihan terhadap berkurangnya daya saing," ucapnya.

Nilai tukar rupiah sempat mencapai nilai terkuatnya selama tujuh tahun terakhir. Rupiah menembus level Rp8.500 per dolar AS pada awal pekan ini.

Sementara itu, berdasarkan kurs tengah BI, nilai tukar rupiah per 9 Juni 2011 tercatat mencapai Rp8.523 per dolar AS, atau melemah dibanding awal pekan ini di kisaran Rp8.506 per dolar AS.

Hartadi juga menjelaskan, penurunan surplus current account atau neraca pembayaran yang terjadi belakangan ini, lebih banyak disebabkan oleh meningkatnya impor bahan bakar akibat tingginya konsumsi di dalam negeri. (sj)

RI Tak Perlu Larang Impor Pangan Eropa

Petani di Prancis mengumpulkan mentimun yang tidak laku dijual (AP Photo/Jacques Brinon)

VIVAnews - Sejumlah negara Eropa tengah dilanda bakteri Escherichia Coli (E Coli) yang telah menjangkiti ribuan orang. Bahkan, membuat puluhan orang meninggal dunia. Namun, bakteri tersebut disinyalir belum masuk ke Indonesia.

"Untuk itu, tidak perlu ada larangan impor makanan dari Eropa," tutur Thomas Darmawan, Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia atau GAPMMI saat dihubungi VIVAnews.com di Jakarta, Rabu 8 Juni 2011.

Menurut Thomas, bila pemerintah Indonesia melarang impor makanan maupun buah-buahan dan sayur mayur dari Eropa ditakutkan akan merugikan Indonesia sendiri. Sebab, hingga saat ini belum ditemukan adanya bakteri E.Coli. "Waspada boleh, tapi jangan langsung dikeluarkan aturan pelarangan," ujarnya.

Sebab, dia menambahkan, bila pemerintah sudah mengeluarkan aturan pelarangan impor dan tidak terbukti bahwa produk impor terjangkit bakteri E.Coli nantinya akan memberatkan usaha atau bisnis makanan di Indonesia ke depannya. "Biasanya, kalau sudah dijadikan aturan akan sulit untuk mencabutnya lagi," kata Thomas.

Apalagi, menurut Thomas, makanan Indonesia hingga saat ini masih aman dari bakteri E.Coli karena impor makanan dari Eropa terbuat dari buah-buahan maupun sayur mayur yang merupakan produk olahan. "Yang kita impor itu, lebih banyak makanan olahan seperti manisan dan kismis," ujarnya.

Bahkan, dia mengakui, kendati impor produk buah segar dari Perancis, terbilang sedikit jumlahnya. "Kita hanya impor buah apel dan itu pun tetap aman," tutur Thomas.

Selain itu, Thomas menuturkan, untuk impor produk buah dan sayur mayur segar lainnya didatangkan dari negara di kawasan Asia seperti Australia, Selandia Baru, Thailand, Taiwan, dan China. "Jadi, produk makanan kita masih aman dari bakteri E.Coli," ujarnya.

Belum Ada Pengalihan Penumpang di Bandara

VIVAnews - Sudah sekitar sembilan jam aksi mogok dilakukan oleh Asosiasi Pilot Garuda (APG). Namun, sampai saat ini situasi penerbangan masih berjalan normal. Penumpukan penumpang pun tidak terlihat.

Salah satu staf penjualan Garuda di bandara Soekarno-Hatta, Wawan mengatakan sampai saat ini tidak ada pengalihan penumpang ke maskapai lain. Dia mengemukakan efek negatif dari aksi mogok sebagian pilot tersebut belum terasa.

"Setelah kami cek, belum ada, penerbangan masih normal saja," kata Wawan saat ditemui di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis 28 Juli 2011.

Berdasarkan pantauan VIVAnews.com di terminal pemberangkatan Garuda tidak ada penumpang yang mengeluhkan aksi protes tersebut. Meskipun mengaku sudah mendengar, sebagian dari mereka tidak terpengaruh dan tidak merasa dirugikan.

"Saya sudah mendengar kabar itu tapi sejauh ini isu-isu saja ya. Saya masih yakin tidak terganggu jadi kita nggak rugi," kata Sri Hariyanti, salah satu penumpang tujuan Batam.

Bahkan Sri menghimbau kepada pilot dan manajemen Garuda untuk menyelesaikan persoalan yang ada dengan baik. Menurutnya,  Garuda sebagai perusahaan penerbangan besar di Indonesia pastilah memiliki mekanisme dan cara terbaik untuk mengelola perbedaan di internal mereka.

"Mereka tentunya punya aturan main misalnya menyampaikan usulan ketidakpuasan dengan cara menyampaikan surat. Jangan serta merta mogok, nanti penumpang dan masyarakat yang dirugikan," kata dia. (eh)

Harga Bensin Eceran di Padang Capai Rp11.000

VIVAnews- Kelangkaan bahan bakar minyak jenis premium terus terjadi di sejumlah daerah di Sumatera Barat. Sulitnya mendapatkan premium membuat antrian BBM di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) dijumpai di luar Kota Padang.

Pantauan VIVAnews, di sejumlah SPBU yang berada di pinggir jalan dari Padang menuju Bukittinggi terlihat antrian cukup panjang. Bahkan salah satu SPBU di Nagari Buaian, Kecamatan Kayu Tanam, dekat pasar jagung tutup karena kehabisan BBM.

Kelangkaan BBM di sejumlah titik SPBU ini justru melambungkan harga premium di tingkat pengecer. Di Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman Barat, harga premium ketengan mencapai Rp11 ribu per liter. Hal ini terjadi karena sulitnya mendapatkan bensin di SPBU. "Harga bensin eceran Rp11 ribu," ujar salah satu pembeli, Roni di Padang, Minggu, 17 Juli 2011.

Sementara salah satu penjual bensin ketengan di Pasar Siteba mengaku menjual bensin per liter seharga Rp5.500, dari harga awal Rp4.500. Kenaikan ini diakuinya karena sulitnya mendapatkan bensin sejak tiga hari terakhir.

"Bensin susah di dapat, tidak bisa beli banyak di SPBU," ujar penjual minyak ketengan di Pasar Siteba, Rosmina, 66 tahun. Dalam keadaan normal, harga bensin di penjualan eceran Rp5.000 per liter. (eh)

(Eri Naldi|Padang)

Harga CPO Dongkrak Bea Keluar

VIVAnews - Direktoral Jendral (Ditjen) Bea Cukai Kementerian Keuangan mengaku terjadi peningkatan bea keluar sebesar 185,9 persen. Kenaikan itu dipengaruhi tingginya harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

Namun, menurut Direktur Jenderal Bea Cukai, Agung Kuswandono, sampai tanggal 7 Juli 2011 realisasi penerimaan masih mencapai target. Misalnya untuk bea keluar sebesar 17,03 triliun, bea masuk 12,3 triliun, dan cukai Rp 26,3 triliun.

"Akhir tahun, kami optimis mencapai target. Untuk itu, kita tetap berusaha secara maksimum," Kata dia di sela rapat dengar pendapat di Gedung DPR, Selasa 12 Juli 2011.

Dia menambahkan, saat ini, penerimaan Bea dan Cukai menunjukkan tren meningkat 2,9 persen dari sisa target tahun ini sebesar Rp33,3 triliun. Peningkatan itu terjadi dalam lima tahun terakhir diipengaruhi peningkatan tarif dan pencegahan aksi ilegal.

Pada kesempatan itu, Agung juga mengungkapkan, Ditjen Bea Cukai berhasil menindak aksi penyelundupan hewan  trenggiling, "Sisik trenggiling merupakan bahan dasar pembuatan shabu. Satu sisik itu dihargai US$1," ujar Agung.

Menurut Agung, hewan dari  Belawan itu akan diselundupkan melalui Bandara Soekarta-Hatta. Sedangkan trenggiling Jawa dan Sumatera akan diselundupkan melalui Pelabuhan Tanjung Priok. "Di sana ada pengepulnya dan modus penyelundupannya biasanya dicampur daging ikan beku," tuturnya.

Laporan: Nina Rahayu

Kerja di rumah

Popular Posts