Peluang Bisnis Online Tanpa Ribet - Serta Info terbaru seputar dunia bisnis indonesia terupdate dan terpercaya

Sabtu, 02 April 2011

Impor Jepang Diperketat, Industri Otomotif?

VIVAnews - Pemerintah menyarankan industri otomotif mencari sumber baru atau relokasi sementara industri komponen dari Jepang guna mengantisipasi penurunan impor komponen asal negara Sakura tersebut.

Menteri Perdagangan (Mendag), Mari Elka Pangestu mengatakan, selama ini pemerintah terus memantau keadaan Jepang. Apa nantinya terjadi penurunan pada perekonomian Jepang yang berdampak pada pertumbuhan atau malah sebaliknya seperti saat gempa Kobe.

Mari menuturkan, pada waktu gempa dan tsunami terjadi memang terdapat penurunan pertumbuhan ekonomi, namun berikutnya naik kembali karena proses rekonstruksi yang dilakukan.

"Hingga saat ini kita evaluasi dan belum terlihat ada dampaknya, tetapi kita pantau terus," kata Mari usai peresmian pabrik Industri Hilir Kelapa Sawit di Marunda, Rabu 30 Maret 2011.

Pemerintah, Mari menambahkan, terus memantau industri komponen otomotif dan industri elektronik yang dinilai paling besar terkena imbas bencana tsunami Jepang. "Seberapa jauh, industri ini nantinya mempengaruhi produksi di dalam negeri," tuturnya.

Sebelumnya, Gabungan Industri Kendaraaan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan produksi mobil aman hanya sampai April, sedangkan Mei baru akan terlihat dampaknya.

Mengenai hal itu, Mendag mengatakan, akan dilihat komponen mana yang terkena seberapa krusialnya pada industri otomotif dan apakah komponen ini dapat dicari sumber lain selain dari Jepang.

"Pertama, mereka memiliki satu bulan untuk mencari sumber yang lain. Atau mungkin produsen Jepangnya sendiri, harus mencari karena jika pabriknya hancur total mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Kedua, apa dapat relokasi sementara untuk produksinya." kata Mari.

Diperparah lagi, Mari melanjutkan, dengan masalah radiasi nuklir, yang kondisinya masih tidak pasti dan melarang orang bekerja atau tinggal dalam radius 50 kilometer. Sebab, meski pabriknya tidak hancur tapi tetap saja mereka tidak dapat bekerja.

Menurut Mari, melalui pertemuannya dengan Gaikindo, diketahui yang paling terkena dampaknya yaitu industri metal atau bagian logamnya.

"Inilah yang harus dipantau seberapa jauh pengaruhnya dan harus cepat dicarikan sumber baru. Jika hal ini dapat diatasi mungkin dampaknya tidak terlalu besar," kata dia. (SJ)

Jumat, 01 April 2011

Kelas Menengah Pilihlah Investasi Pasar Modal

VIVAnews - Melihat pertumbuhan masyarakat ekonomi kelas menengah yang terus meningkat, Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa menyarankan agar kalangan masyarakat ini mulai melirik investasi jangka panjang di sektor pasar modal.

"Namun, jangan semuanya juga, karena naik turun. Jadi, jika ada uang yang menganggur kira-kira 5 tahun dan tidak digunakan, lebih baik ditaruh di pasar modal saja, pasti untung," kata Purbaya di Jakarta, Kamis, 31 Maret 2011.

Menurut Purbaya, masyarakat selama ini memang masih cenderung menyimpan dananya dalam bentuk deposito, kendati bunga yang diperoleh sangat kecil. Hal ini terlihat dari dana pihak ketiga (DPK) di sejumlah perbankan yang jumlahnya masih besar yaitu lebih dari 40 persen.

Purbaya menilai, pertumbuhan masyarakat ekonomi kelas menengah merupakan konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi nasional yang cepat. Dirinya juga meyakini, masyarakat kelas ini akan cukup kuat dan mampu mendorong perekonomian nasional, walaupun ada pihak yang mengkhawatirkan tingkat produktivitas mereka.

"Saya tidak setuju kelas menengah kita disebut tidak kuat," katanya.

Sebagai bukti, Purbaya melanjutkan, banyak masyarakat dunia yang menilai Indonesia akan kembali mengalami kegoncangan ekonomi ketika munculnya krisis ekonomi global. Namun, anggapan tersebut dapat langsung dipatahkan melihat kenyataan pertumbuhan ekonomi nasional yang justru tumbuh signifikan.

"Itu rekam jejak yang tidak bisa dibantah," katanya.

Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang meningkat menyebabkan kelas menengah Indonesia tumbuh pesat selama tujuh tahun terakhir. Berdasarkan data Bank Dunia, pada 2003, jumlah kelas menengah hanya 37,7 persen populasi, namun pada 2010 kelas menengah Indonesia mencapai 134 juta jiwa atau 56,5 persen.

Jumlah yang dirilis Bank Dunia itu melebihi data yang pernah disampaikan Bank Pembangunan Asia (ADB) beberapa waktu lalu. Dalam laporan yang berjudul "The Rise of Asia's Middle Class 2010", disebutkan jumlah kelas menengah di Indonesia tumbuh pesat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Pada 1999, kelompok kelas menengah baru 25 persen atau 45 juta jiwa, namun satu dekade kemudian melonjak jadi 42,7 persen atau 93 juta jiwa. Sedangkan jumlah kelompok miskin berkurang dari 171 juta jiwa menjadi 123 juta jiwa. (art)

Inflasi Maret Rendah, Investor Borong Saham

VIVAnews - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diperkirakan masih bercokol di teritori positif akhir pekan ini, Jumat 1 April 2011.

Laporan keuangan emiten 2010 yang positif dan ekspektasi rendahnya inflasi Maret yang akan diumumkan hari ini akan menjadi penopangnya.

Research analyst PT Panin Sekuritas Tbk, Purwoko Sartono menuturkan, stabilnya kondisi makro ekonomi nasional juga mendorong aliran dana asing masih masuk ke pasar finansial Indonesia. "Jadi, IHSG akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat hari ini," kata dia kepada VIVAnews.com di Jakarta, Jumat.

Dia merekomendasikan, saham PT PP Tbk (PTPP), PT Ciputra Surya Tbk (CTRS), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) seiring ekspektasi laju inflasi Maret yang rendah, yang membuat suku bunga acuan perbankan (BI Rate) tidak naik. "Kalau BI Rate tetap, saham bank dan properti jadi favorit," ujar Purwoko.

Purwoko juga merekomendasikan, saham PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) yang masuk dalam sektor barang konsumsi, yang selalu menjadi buruan para pelaku pasar. "PER (price to earning ratio) MAIN rendah, dibanding saham sejenisnya," kata dia.

Selain itu, dia menuturkan, saham-saham pilihan tersebut mencatatkan kinerja yang positif untuk tahun buku 2010, seperti PTPP yang mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 23,3 persen menjadi Rp201,65 miliar pada akhir 2010 dibandingkan 2009 yang sebesar Rp163,26 miliar.

Begitu pula, Bank Rakyat Indonesia yang berhasil meraup laba terbesar di antara perbankkan nasional. BBRI membukukan laba bersih sebesar Rp11,2 triliun, naik 56,98 persen dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang hanya Rp7,308 triliun. Peningkatan laba ini, salah satunya dipicu kenaikan pinjaman sebesar 20 persen.

Sedangkan Kepala Riset PT MNC Securities, Edwin Sebayang berpendapat berbeda. Bursa Indonesia, kata dia, di akhir pekan ini rawan terkena aksi ambil untung investor. "Terutama, saham-saham BUMN yang telah naik tajam dua hari berturut-turut," ujarnya saat dihubungi terpisah.

Menurut dia, harga minyak mentah yang naik mendekati US$107 per barel menjadi faktor negatif bagi saham sektor perbankan, transportasi, dan konsumer.

BUMN Bersinergi Tingkatkan Layanan Publik

VIVAnews - Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjalin kerja sama dalam meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat. Kerja sama itu di antaranya dalam pelayanan Tiket Terpadu Antar Moda Online (TITAM) yang merupakan sistem ticketing secara online untuk angkutan transportasi di Indonesia.

Sejumlah BUMN tersebut di antaranya PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Kereta Api Indonesia/KAI (Persero), PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), PT Pelayaran Nasional (Persero), Perum Damri, dan PT Garuda Indonesia Tbk (Persero), serta PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Persero).

Menurut Direktur Utama BNI, Gatot M Suwondo, kerja sama itu merupakan komitmen BNI dalam memberikan layanan perbankan untuk mendukung peningkatan layanan kepada masyarakat atau pelanggan dalam menggunakan sarana transportasi di Indonesia melalui layanan sistem pertiketan yang terpadu.

"Kerja sama ini juga menjadi upaya untuk membentuk sinergi antar-BUMN melalui peningkatan efisiensi pengelolaan bisnis dan operasional, yang pada akhirnya juga dapat dinikmati masyarakat dengan kualitas layanan publik yang lebih baik dan murah," kata dia usai penandatanganan nota kesepahaman dengan sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang perhubungan di Jakarta, Rabu 30 Maret 2011.

Ikut menandatangani nota kesepahaman antara lain Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah; Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar; Direktur Utama Pelayaran Nasional, Jusabella Sahea; Direktur Utama Perum Damri, Agus Suherman Subrata, dan Direktur Utama ASDP Indonesia Ferry, Sirajuddin Saini, serta disaksikan langsung oleh Menteri BUMN, Mustafa Abubakar.

Pada kesempatan yang sama, secara khusus BNI juga menandatangani nota kesepahaman dengan PT KAI tentang penyediaan dan pemanfaatan layanan perbankan, antara lain penerbitan kartu cobranding KAI dan BNI, pembayaran tiket kereta api melalu E-channel BNI, penerbitan kartu pegawai elektronik, fasilitas kredit konsumer untuk pegawai KAI, dan fasilitas kredit kepada koperasi KAI.

Layanan lain berupa integrated cash management, fasilitas kredit korporasi, fasilitas kredit kepada supplier/vendor KAI, penerbitan corporate card, pemanfaatan produk treasury dan trade finance, promosi bersama dan kerja sama layanan produk serta jasa perbankan lainnya. (art)

Saudi Bergejolak, Harga Minyak Bisa US$175

VIVAnews - Tingginya permintaan terhadap minyak dan gas secara global akan memicu naiknya harga minyak mentah di dunia. Konflik yang kian memanas di Timur Tengah dan Afrika Utara juga akan memengaruhi harga minyak secara signifikan.

Director Energy & Power System Frost & Sullivan Asia Pacific, Subramanya Bettadapura, mengatakan harga minyak diprediksi terus melambung naik dalam beberapa pekan ke depan.

"Dalam jangka pendek diperkirakan harga minyak yang saat ini berkisar US$108 per barel dapat mencapai US$120 per barel," ujar dia dalam Energy Outlook 2011 Frost & Sullivan di Jakarta, Rabu 30 Maret 2011.

Subramanya menuturkan, akan ada empat skenario mengenai harga minyak ke depan. Skenario pertama, harga minyak dapat melambung hingga US$175 per barel jika situasi memanas di Afrika Utara dan Timur Tengah menjalar ke Arab Saudi. "Sebab, Arab Saudi merupakan negara produksi minyak terbesar dengan produksi 9,5 juta barel," kata dia.

Skenario kedua, lanjut Subramanya, jika konflik tidak meluas dan Jepang dalam kondisi seperti saat ini, harga minyak diprediksikan hanya mencapai US$125 per barel. Skenario selanjutnya adalah saat konflik di Timur Tengah dan Afrika Utara mereda, harga minyak akan turun menjadi US$100 per barel.

Sedangkan skenario keempat, menurut Subramanya, adalah paska konflik Timur Tengah dan Afrika Utara. Ia memprediksikan, setelah konflik, negara-negara di Afrika Utara dan kawasan Timur Tengah laju perekonomian akan melemah. "Harga minyak akan turun mencapai US$75 per barel," ujarnya.

Terkait konflik yang terjadi di Afrika Utara dan Timur Tengah, sambung Subramanya, Indonesia hanya akan mendapatkan dampak kecil dari suplai minyak. Suplai minyak Indonesia sebagian besar berasal dari Arab Saudi dan Singapura. Indonesia juga telah melakukan maintance stok minyak selama 22 hari.

"Selain itu, Indonesia juga mempunyai perjanjian dengan negara-negara tetangga untuk suplai minyak jika kondisi di Timur Tengah memburuk," kata Subramanya.

Selain itu, dengan harga minyak yang kian tinggi, Indonesia harus memaksimalkan produksi dengan cara meningkatkan eksplorasi serta memaksimalkan sumur-sumur migas yang ada, termasuk sumur tua yang masih banyak jumlahnya dan potensial untuk dieksploitasi. (umi)

Ini Kota Inflasi Tertinggi di Pulau Jawa

VIVAnews - Sepanjang Maret lalu, Badan Pusat Statistik mencatat deflasi sebesar 0,32 persen. Namun, sejumlah kota masih mengalami inflasi.

Catatan BPS, di Pulau Jawa, laju inflasi tertinggi terjadi di Yogyakarta, yaitu 0,21 persen. Lalu disusul Tegal dan Surabaya masing-masing 0,20 dan 0,17 persen.

Badan Pusat Statistik Yogyakarta menyatakan pulau Jawa dengan 23 kota yang dipantau perkembangannya tercatat 3 kota mengalami inflasi dan 20 lainnya mengalami deflasi. "Yogyakarta merupakan kota dengan inflasi tertinggi," kata Kepala BPS Yogyakarta Suharno, Jumat, 1 April 2011

Untuk laju deflasi terbesar di Pulau Jawa kata Suharno berada di Kota Tangerang dan Surakarta sebesar 0,80 persen dan terendah di Kota Jakarta, Bogor, Bandung, dan Sumenep masing-masing 0,01 persen.

Meski inflasi Yogyakarta tertinggi di Pulau Jawa, tetapi dibandingkan kota lain di Indonesia, laju inflasi Yogyakarta masih kalah dengan laju inflasi di Kota Palu (0,67 persen), Maumere (0,57 persen), dan Ternate (0,46 persen).

Lebih lanjut Suharno menyatakan anomali musim dan bencana alam pascaerupsi Merapi masih menjadi faktor yang mempengaruhi ekonomi Yogyakarta dan kebijakan pemerintah yang masih mengambang.

Indikasi ini menurut dia tercermin dari hasil pemantauan harga-harga di seluruh wilayah Yogyakarta pada Maret lalu. "Indeks pada laju inflasi pada Maret ini mencapai 126,6," katanya.

Suharno menambahkan dari tujuh kelompok pengeluaran konsumsi yang menyumbang angka inflasi, enam diantaranya mengalami kenaikan.

Kelompok itu adalah bahan makanan yang mengalami kenaikan 0,47 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 0,21 persen, kelompok sandang naik 0,63 persen, kelompok kesehatan naik 0,23 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga naik 0,11 persen, dan kelompok transportasi,komunikasi dan jasa keuangan naik sebesar 0,28 persen.

Sebaliknya kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami oenurunan 0,01 persen. "Komoditas yang mengalami kenaikan harga hingga menyumbang inflasi tinggi adalah telur ayam ras dan jeruk yang masing-masing menyumbang 9,99 persen dan 12,74 persen," kata Suharno.

Selain itu bawang putih yang naik 6,93 persen membrikan andil 0,08 persen terhadap laju inflasi. Begitu pula kenaikan harga emas yang mencapai 1,81 persen menyumbang 0,03 persen. Kenaikan bahan lain yang menyumbang inflasi adalah, batu bata, kacang panjang, sawi hijau, tempe, sepeda motor, dan mobil.

Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga memberikan andil negatif adalah beras dan cabe rawit yang turun masing masing 2,55 persen dan 27,19 persen memberikan andil 0,09 persen.

Harga bahan lain yang turun dan memberi andil negatif adalah gula pasir, daging ayam ras, dan tomat sayur.

Laporan: Juna Sanbawa l Yogyakarta

Kerja di rumah

Popular Posts