Peluang Bisnis Online Tanpa Ribet - Serta Info terbaru seputar dunia bisnis indonesia terupdate dan terpercaya

Rabu, 05 Januari 2011

Gebrakan Dahlan Iskan Pangkas Birokrasi PLN

VIVAnews - Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Dahlan Iskan kembali membuat gebrakan dengan memangkas birokrasi. Dahlan mengklaim telah berhasil memotong birokrasi izin pengerjaan proyek di perusahaan listrik milik pemerintah itu.

Menurut Dahlan, Surat Kuasa Investasi (SKI) yang biasanya diserahkan pada Maret dimajukan lebih awal. SKI merupakan surat izin direksi PLN untuk para manajer di daerah agar bisa melaksanakan proyek PLN.

"Tahun lalu saya mencari kendala apa saja yang menghambat, ternyata proyek PLN sering telat karena SKI terlambat diberikan," kata Dahlan Iskan di sela Apel Kesiapan Pelaksanaan Pembangunan 2011 di Jakarta, Rabu 5 Januari 2011.

Menurut Dahlan, bila Surat Kuasa Investasi diberikan pada Maret, maka proyek baru berjalan Agustus. Sisa waktu yang tinggal lima bulan tidak cukup untuk menyelesaikan proyek-proyek PLN. Proyek-proyek yang di dalamnya terdapat pembangunan transmisi dan jaringan ini, bila telat akan mempengaruhi kinerja PLN yang cukup signifikan.

Saat ini, menurut Dahlan, problem birokrasi ini telah diselesaikan. Surat Kuasa Investasi sudah diberikan sejak Januari ini, sehingga diharapkan pengerjaan proyek bisa maju lima hingga enam bulan.

Menurut Dahlan, langkah ini merupakan langkah konkret untuk melepaskan hambatan birokrasi PLN. Proyek-proyek tahun ini antara lain, pembangunan transmisi, dan pembangunan gardu induk. "Nilainya mencapai Rp25 triliun," ujar Dahlan.

Selain itu, Dahlan juga mendorong pekerja muda berkompeten di PLN untuk maju dan menangani proyek-proyek besar. Ia meminta kepada karyawan-karyawan senior agar memberikan kesempatan kepada pekerja muda.

"Jangan berpikir anak junior tak mampu, karena hanya anak muda yang bisa tidak tidur 2x24 jam untuk menyelesaikan masalah di lapangan," katanya. (hs)

Harga Emas Merosot Tajam

VIVAnews - Harga emas mengalami penurunan tajam di pasar spot dan bursa berjangka New York, Selasa 4 Januari 2011. Harga emas pengiriman Februari di divisi Comex New York Mercantile Exchange jatuh US$44.10, atau 3,1 persen menetap pada US$1.378,80 per ons.

Penguatan dolar AS atas sejumlah mata uang utama dunia membuat investor emas melakukan aksi ambil untung. Indeks Dolar AS pada Selasa naik 0,18 persen menjadi US$79,37. Sedangkan harga spot emas turun US$37,20.

Harga emas di Indonesia masih belum turun signifikan. Di divisi Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk, harga emas masih Rp404 ribu per gram. Sedangkan di Perum Pegadaian Rabu ini Rp398.951 (beli) dan Rp409.181 (jual).

Analis Commerzbank dalam laporan harian mengatakan bahwa umumnya kenaikan dolar AS berdampak negatif bagi komoditas. Ini karena investor pemegang mata uang selain dolar harus membeli komoditas lebih mahal.

Sebenarnya, menurut dia, tingginya harga emas beberapa hari terakhir didorong oleh keluarnya data ekonomi Asia yang bagus. "Ini membuat pasar modal Asia membaik," katanya, seperti dilansir media Australia, Proactive Investors, Rabu 5 Januari 2011.

Harga komoditas tembaga untuk pengiriman Maret turun 9 sen, atau 2 persen menjadi US$4,37 per pon di divisi Comex New York Mercantile Exchange. Sebelumnya logam ini diperdagangkan hingga US$4,47.

Harga perak untuk pengiriman Maret juga turun US$1,62 atau 5,2 persen menjadi US$29,51 per ons, harga terendah sejak 27 Desember yang saat itu ditutup pada US$29,26.

Tidak hanya itu, menguatnya dolar juga telah memotong harga minyak hingga 2,4 persen. Minyak mentah untuk pengiriman Februari turun US$2,17 ke level US$89,38 per barel di New York Mercantile Exchange.

Penurunan ini merupakan terbesar sejak 16 November 2010. Pada perdagangan Selasa, harga harian minyak sempat menyentuh US$92,58, tertinggi sejak 7 Oktober 2008. (hs)

BI: Soal Kredit, Bank BUMN Kalah dari Swasta

VIVAnews - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan realisasi penyaluran kredit bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sepanjang 2010 tidak mencapai target yang dipasang dalam Rencana Bisnis Bank.

Pasalnya, bank-bank pelat merah tersebut tercatat mengalami minus Rp13 triliun dari target rencana bisnis bank.

"Sampai akhir tahun 2010, saya kira masih akan seperti itu," ujar Deputi Gubernur BI Muliaman D Hadad seusai Keterangan Pers di Gedung BI,
Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu 5 Januari 2010.

Menurut Muliaman, pencapaian realisasi penyaluran kredit bank pemerintah tersebut masih kalah dibandingkan bank-bank swasta. BI memperkirakan
rata-rata bank swasta mampu menyalurkan kredit di atas RBB-nya.

Pada bagian lain, BI mengungkapkan kredit perbankan sepanjang 2010 mengalami pertumbuhan sebesar 22,8 persen. Kredit Usaha Mikro
Kecil dan Menengah (UMKM) tercatat sebagai penyumbang terbesar pertumbuhan kredit kali ini.

"Pertumbuhan tersebut lebih banyak berasal dari kredit UMKM dan konsumsi," ujar Gubernur BI Darmin Nasution.

Menurut Darmin, industri perbankan selama 2010 semakin solid seperti terlihat dari rasio kecukupam modal (CAR) dan terjaganya rasio kredit
bermasalah (NPL) gross di bawah lima persen.

BI juga menilai intermediasi perbankan semakin membaik, itu terlihat dari
pertumbuhan kredit sebesar 22,8 persen.

Sejauh ini, kata Darmin, BI tidak melihat adanya dampaik krisis utang di Eropa yang berpengaruh pada kinerja perbankan Tanah Air. Lolosnya bank dari dampak itu, disebabkan relatif kecilnya eksposure perbankan nasional terhadap perbankan di negara Eropa.

Sementara itu, terkiat peluang pertumbuhan kredit tahun ini, Muliaman mengaku BI masih sulit memperkirakan, karena masih banyak variabel yang terus bergerak. "Pertumbuhan kredit didorong oleh GDP (pertumbuhan domestik bruto)," katanya.

Muliaman memperkirakan, jika GDP mengalami kenaikan, seharusnya pertumbuhan kredit akan mengalami pertumbuhan lebih besar. Artinya, jika GDP tahun depan diperkirakan sebesar 6,3 persen, target pertumbuhan kredit diperkirakan masih menggunakan target lama yaitu sebesar 22-24 persen. (hs)

Tujuh Produk Ekspor Unggulan Indonesia

VIVAnews - Pemerintah menargetkan pada 2010, ekspor Indonesia akan menembus rekor baru dalam sejarah, yakni mencapai US$150 miliar. Tahun ini ditargetkan ekspor akan tumbuh 11,3-11,5 persen.

Menurut Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, hingga November 2010, nilai ekspor Indonesia sudah mencapai US$140,65 miliar. Dari jumlah itu, sebanyak US$115 miliar merupakan ekspor nonmigas.

"Pencapaian rekor ekspor disebabkan oleh perbaikan kualitas ekspor, diversifikasi produk dan pasar tujuan ekspor, serta peningkatan kapasitas produksi seiring kenaikan investasi di berbagai sektor," kata Mari Elka Pangestu di Jakarta, Rabu 5 Januari 2011.

Mari menjelaskan berdasarkan komoditas ekspor nonmigas, Kementerian menyebutkan 7 komoditas memiliki prospek ekspor tinggi pada 2011, antara lain tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, otomotif, kertas, kelapa sawit (CPO) dan produk turunannya, kakao olahan dan biji kakao serta Kopi.

Untuk TPT, Kementerian Perdagangan menargetkan pada 2011 ekspor TPT meningkat hingga 10 persen. TPT memiliki pasar utama ekspor yang masih prospektif seperti Amerika, Eropa, Timur Tengah dan Asean. Sedangkan komoditi alas kaki seperti sepatu ditargetkan meningkat di atas 20 persen karena adanya relokasi 2 pabrik sepatu di Purwakarta dan Tangerang serta turnover pegawai Indonesia lebih rendah dibandingkan China.

Untuk sektor otomotif ditargetkan meningkat 10 persen karena industri otomotif terus tumbuh. Kertas juga ditargetkan meningkat karena pencabutan Bea Masuk Anti Dumping di Korea Selatan. Indonesia menguasai 20-25 persen pangsa pasar Korea Selatan.

Untuk CPO dan produk turunannya ditargetkan meningkat 16 persen karena meningkatnya harga CPO di pasar internasional dan adanya investasi sebesar US$1,2 miliar pada 2011.

Sedangkan untuk komoditi Biji Kakao ditargetkan meningkat hingga 22 persen sedangkan Kakao olahan meningkat hingga 61 persen. Meningkatnya target ekspor Kakao olahan disebabkan oleh meningkatnya kapasitas produksi kakao olahan dari 180 ribu ton menjadi 280 ribu ton pada 2011.

Peningkatan ekspor kakao disebabkan oleh banyaknya pabrik kakao yang meningkatkan nilai tambah seperti ekspansi industri pengolahan biji kakao di Tangerang dan Medan, juga lantaran investasi baru di Batam oleh perusahaan Malaysia dengan kapasitas 26 ribu ton per tahun mendorong industri kakao olahan.

Sedangkan untuk kopi, Kementerian Perdagangan memperkirakan ekspor naik 5 persen karena produksi Kopi 2011 meningkat menjadi 570 ribu ton dari 540 ribu ton pada 2010. Kecilnya kenaikan ekspor harga kopi diakibatkan pada 2010, ekspor kopi terkendala produksi kopi yang buruk.

KPPU: Pertamina dan Medco Bersekongkol

VIVAnews - Majelis Komisi Pengawas Persaingan Usaha menyatakan telah terjadi persekongkolan dalam pengembangan proyek Donggi-Senoro oleh Pertamina bersama tiga pelaku usaha lainnya. KPPU mengenakan denda kepada keempat pelaku usaha Rp31 miliar.

Dalam pernyataan kepada pers, Majelis Komisi yang dipimpin oleh Nawir Messi menyebutkan telah terjadi pelanggaran dalam proses beauty contest proyek Donggi-Senoro.

Donggi-Senoro merupakan proyek pengolahan gas dari gas alam menjadi gas alam cair. Ladang gas yang terletak di Kalimantan ini merupakan salah satu ladang gas besar di Indonesia.

Dari hasil pemeriksaan KPPU, keempat pelaku yang diduga melanggar adalah PT Pertamina, PT Medco Energi Internasional Tbk, PT Medco E&P Tomori Sulawesi dan Mitsubishi Corporation.

Majelis Komisi berkesimpulan Mitsubishi Corp telah bersekongkol bersama Pertamina dan Medco Energi untuk mengatur dan menentukan Mitsubishi sebagai pemenang beauty contest yang mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.

Selain itu, Mitsubishi bersekongkol dengan Medco Energi dan PT Medco E&P Tomori Sulawesi untuk mendapatkan informasi kegiatan usaha pesaingnya yaitu LNG Energi Utama. LNG Energi Utama sebelumnya melaporkan ke KPPU atas dugaan persekongkolan dalam tender di proyek Donggi-Senoro.

Padahal, informasi ini diklasifikasikan sebagai rahasia perusahaan untuk menyusun proposal beauty contest sehingga mengakibatkan terjadi persaingan usaha tidak sehat.

Atas sejumlah pelanggaran tersebut, Majelis Komisi memutuskan keempat pihak tersebut telah melanggar Pasal 22 dan Pasal 23 UU No. 5 Tahun 1999. Pasal 22 menyebutkan, "Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat”.

Sedangkan, Pasal 23 menyebutkan, “Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mendapatkan informasi kegiatan usaha pesaingnya yang diklarifikasikan sebagai rahasia perusahaan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.”

"Keempat pihak itu dikenai denda total sebesar Rp31 miliar untuk disetor kepada kas negara Republik Indonesia," ujar Nawir.

Perinciannya, Pertamina sebesar Rp10 miliar, PT Medco Energi Rp5 miliar, PT Medco E&P Rp1 miliar dan Mitsubishi Corp Rp15 miliar.

Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina, Mochamad Harun, ketika dimintai konfirmasi  mengatakan akan mengajukan  banding atas keputusan KPPU tersebut. "Itu tidak fair, tuduhan KPPU menyakitkan."

Harun mengatakan, proyek Donggi-Senoro merupakan proyek yang sejak 25 tahun yang lalu ditemukan. Namun, pengembangannya sangat lama. "Kami sudah investasi cukup besar. tetapi hanya dipersoalkan gara-gara kasus ini."

Padahal, dia menegaskan, apa yang dituduhkan KPPU tidak benar. "Kami tidak melakukan persekongkolan."

Presiden Komisaris PT Medco Energy, Hilmi Panigoro, tidak mengangkat telepon genggamnya ketika akan dimintai konfirmasi soal kasus ini.

Namun, menurut Harun, tanggapan Medco dan Mitsubishi mengenai kasus ini akan sama dengan Pertamina. "Karena kami merupakan konsorsium. Sehingga tanggapan kami satu kesatuan."

Memilih Instrumen Investasi 2011

VIVAnews - Melanjutkan kencangnya arus modal asing ke pasar negara berkembang (emerging market), pasar saham Indonesia masih berpeluang untuk tumbuh. Hal itu ditunjukkan adanya penurunan drastis indikator utang negara (public debt) terhadap pertumbuhan domestik bruto (GDP).

Laporan International Monetary Fund memperlihatkan, angka public debt terhadap GDP Indonesia sebesar 30 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan negara-negara maju meski sedikit di atas China.

Rasio utang terhadap GDP China untuk tahun ini ditaksir hanya 23 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat (100 persen) dan Jepang (204 persen).

Arus modal ini mendorong kenaikan harga pada obligasi negara. Artinya, imbal balik obligasi terhadap tenor 10 tahun menurun dari 10,22 persen menjadi 7,6 persen. Bahana Investment Management memperkirakan imbal hasil (yield) obligasi negara bergerak pada kisaran 7,5 sampai 8,5 persen untuk 2011.

Pemerintah sendiri tahun ini akan menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) senilai Rp200 triliun, lebih besar dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp170 triliun. "Peningkatan nilai ini, karena kebutuhan pendanaan pemerintah dari SUN bertambah tahun ini," kata Presiden Direktur Indonesia Bond Rating Agency, Ignatius Girendroheru ketika dihubungi VIVAnews di Jakarta, Rabu 5 Januari 2010.

Selain itu, Ignatius mengingatkan, pasar obligasi tahun ini tetap rentan dengan pergerakan suku bunga acuan dan tingkat inflasi.

Sedangkan Bahana memperkirakan, suku bunga acuan akan meningkat pada kuartal ketiga tahun ini.

Menurut Director for Research and Investor Relation Bahana Investment Management, Budi Hikmat, Bank Indonesia (BI) tidak akan buru-buru meningkatkan suku bunga acuan, karena ada kebijakan BI mengenai tingkat GWM link LDR sebesar 78-104 persen. "Tahun ini BI kikuk," kata dia.

Lalu bagaimana memilih instrumen investasi 2011?

Bahana merekomendasikan, untuk memperbesar proposi saham pada portofolio investasi 2011. "Tahun ini tahunnya saham," kata Marketing Director Bahana Investment Management, Rukmi Proborini.

Mengapa? Menurutnya, semakin rendah yield obligasi negara, berarti semakin besar net present value saham sehingga kenaikan saham sendiri pada hakikatnya meningkatkan kekayaan investor yang cenderung diikuti penguatan keinginan untuk berbelanja. "Hal ini berdampak positif memacu pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Sedangkan analis PT Samuel Sekuritas Adrianus Bias Prasuryo mengakui, dari segi valuasi, saat ini indeks harga saham gabungan diperdagangkan pada PE (price to earning ratio) 14,3 kali, relatif lebih mahal dibandingkan dengan rata-rata historis lim tahun yang berkisar 13,15 kali, namun masih lebih rendah dari level tertinggi yakni pernah dibuat di 16,9 kali.

"Kami melihat, bursa Indonesia masih pantas diperdagangkan premium seiring ekspektasi kenaikan rating menjadi investment grade di 2011," kata dia.

Hal lain yang mendasari adalah rasio return on equity (ROE) Indonesia yang mencapai 34 persen, tertinggi di kawasan regional Asia dan ratio price/earning to growth (PEG) yang relatif rendah hanya 0,6 kali, ketiga terendah di kawasan Asia.

Dari sisi domestik, semakin membaiknya stabilitas politik serta tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menjadi justifikasi bursa Indonesia layak diperdagangkan premium.

Kendati demikian, Head of Research PT Mandiri Sekuritas Ari Pitoyo menuturkan, ada kecenderungan terjadi keseimbangan dalam berinvestasi di tahun ini.

Riset Mandiri Sekuritas memperkirakan, tren imbal balik pasar obligasi Indonesia akan terjadi volatilitas dengan asumsi tingkat inflasi pada level 6,6 persen dan suku bunga acuan sebesar tujuh persen.

Yield untuk obligasi bertenor dua tahun berkisar antara 6,8 persen sampai dengan 8,1 persen. Sementara itu, obligasi bertenor sepuluh tahun akan berkisar pada 9,5 persen dengan range 8,9-10,1 persen.

Debt Market Anayst Mandiri Sekuritas Handy Yunianto merekomendasikan, berinvestasi pada obligasi dengan tenor yang pendek dan mengalihkan kembali portofolio ketika tingkat imbal balik obligasi bertenor 10 tahun ketika kupon sudah di atas 8,25 persen.

Dia juga menyarankan, memperbesar porsi obligasi korporasi dengan tingkat rating yang baik sehingga resiko premiun masih lebih tinggi dari long term spread. "Pertumbuhan ekonomi yang baik akan menurunkan resiko premium tahun ini," kata Handy.
 
Sementara itu, tahun ini jumlah emisi obligasi yang akan masuk ke pasar diperkirakan sebesar Rp34 triliun. Emisi tersebut didominasi oleh obligasi korporasi yang berasal dari perusahaan pembiayaan. (umi)

Kerja di rumah

Popular Posts